SUPERVISI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM
PENDIDIKAN
1. Abstrak
Pemberdayaan
rnasyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan tuntutan otonomi daerah
sekaligus menjadi jawaban atas tantangan Pemberdayaan masyarakat dilakukan
untuk membuat masyarakat berdaya dan mengoptimalkan peransertanya dalam
penyelenggaraaan pendidikan. Fakta menunjukkan bahwa upaya pemberdayaan
masyarakat di SKB Siantar sudah dilakukan namun belum optimal. Jika hal ini
tidak ditindaklanjuti, maka dikhawatirkan banyak anak usia pra sekolah yang
tidak memperoleh pendidikan usia dini, dan upaya peningkatan mutu pendidikan
tidak tercapai sesuai dengan yang diharapkan, Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen pemberdayaan masyarakat yang
dilakukan pada program Kelompok Bermain di SKB Siantar, bagaimana mutu pendidikan
Kelompok Bermain, serta keterkaitan pemberdayaan masyarakat dengan mutu
pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik
wawancara, observasi dan studi dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data dari
Kepala SKB, Penyelenggara Kelompok Bermain, Tenaga Pendidik Kelompok Bermain,
Pamong Belajar SKB Siantar, orang tua warga belajar, tokoh pendidikan, tokoh
masyarakat, organisasi profesi, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas
Keluarga Berencana, dan warga belajar. Penelusuran informasi dihentikan apabila
tidak ada lagi data yang baru. Selanjutnya dilakukan validasi data dengan
trianggulasi, penggunaan bahan referensi. serta membandingkan hasil wawancara
dengan observasi dan dokumentasi. Temuan penelitian menujukkan bahwa
fungsi-fungsi manajemen dalam pemberdayaan masyarakat pada program Kelompok
Bermain di SKB Siantar antara lain: 1) perencanaan (planning) meliputi kegiatan
penentuan tujuan, anggaran dan pengelolaan. 2) pengorganisasian (organizing),
meliputi kegiatan penyusunan personil, penentuan tugas dan tanggung jawab,
hubungan komunikasi, kepengawasan, koordinasi. 3) pengarahan (actuating)
meliputi kegiatan pemberian motivasi dan pemecahan masalah, dan 4) pengawasan (
controlling )meliputi kegiatan mengawasi seluruh aspek kegiatan yang dilakukan
penyelenggara, tenaga pendidik, dalam pelaksanaan kegiatan maupun dana. Dapat
disimpulkan bahwa dalam upaya pemberdayaan masyarakat ada model manajemen yang
digunakan meliputi planning, organizing, actuating dan controlling. Upaya
pernberdayaan masyarakat yang telah dilakukan belum mencapai hasil yang
memuaskan, hal ini disebabkan situasi dan kondisi dari lembaga dan masyarakat
itu sendiri. Mutu pendidikan perlu lebih ditingkatkan dengan mengupayakan peran
serta rnasyarakat dalam pengelolaan pendidikan.
2. Pendahuluan
Masyaraakat ialah
kelompok perhatian Warga Negara Indonesia non pemerintah yang mempunyai
perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. Peran serta masyarakat dalam
pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, orgnisasi
profesi, pengusaha dan organisasi kemsayarakatan, dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu pendidikan. Sejak tahun 1981, mulai muncul tulisan-tulisan
yang berkaitan dengan community based education (pendidikan berbasis
masyarakat), dan akhir-akhir ini istilah tersebut mulai dikumandangkan di
mana-mana. Dari konsep ini, kelihatannya terkandung cita-cita untuk mewujudkan
masyarakat yang cerdas, terampil, mandiri, berdaya saing, dan gemar belajar
dengan melaksanakan program-program belajar yang bertujuan untuk memberdayakan
masyarakat di lingkungannya, dan siap menghadapi setiap perubahan di masa yang
akan datang.
Pendidikan yang
menyadarkan adalah proses memanusiakan anak sehingga potensinya menjadi aktual
dalam kematangan dan kemandirian hidupnya. Suatu proses yang mampu memenuhi
pendidikan masyarakat sebagai kebutuhan dasar bagi setiap warga negara. Hanya
dengan pendidikan yang baik, setiap orang akan mengetahui hak dan tanggungjawab
sebagai individu, anggota masyarakat, dan makhluk tuhan.
Dengan kata lain
pendidikan harus dilalui sejak pendidikan anak usia dini, sekolah dasar,
sekolah menengah sampai perguruan tinggi merupakan hal yang mandasar dan
fundamental bagi kehidupan masyarakat.
Pemberdayaan
masyarakat di sini mengandung makna untuk membangun kekuatan masyarakat agar
mereka sanggup bersaing dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang
dialami dalam kehidupannya.
Dalam pendidikan
berbasis masyarakat ini, lembaga pendidikan diselenggarakan dari, oleh, dan
untuk masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah hnya membatu pembiayaan apabila
diperlukan. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang dikembangkan
berdasarkan kebutuhan masyarakat. Sarana dan prasarana pendidikan pun
menggunakan sumber daya apa yang terdapat dalam masyarakat.
Dengan adanya
pendidikan berbasis masyarakat ini, sekolah bertumpu pada masyarakat, maksudnya
berada di tengah-tengah masyarakat, mengandalkan kekuatan masyarakat, dimiliki
oleh masyarrakat, menjawab kebutuhan masuarakat, dan pengelolaannya berada di
tangan masyarakat.
Sekolah yang bertumpu
pada masyarakat ini mengarah pada kemandirian
masyarakat dalam mengelolanya. Dalam kaitan ini, semua badan, instansi,
atau organisasi yang ada di masyarakat dapat mengambil bagian dalam pengelolaan
sekolah tersebut. Peran serta masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas dan
orestasi sekolah sangat diperlukan agar kondisi sekolah dapat berada di atas
standar minimal dan peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai.
3. Metode
- Kunjungan
sekolah
- Kunjungan
ke masyarakat
4. Pembahasan
a.
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pendidikan
Untuk meningkatkan
pelayanan pendidikan yang bermutu sehingga dapat mewujudkan sekolah yang
berkualitas, maka di setiap sekolah dibentuk organisasi Badan Peran serta
Masyarakat (BPM), seperti BP3, Komite Sekolah, Dewan Sekolah, atau organisasi
lain yang memiliki tujuan untuk :
- Membantu
kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah
- Memelihara,
meningkatkan, dan mengembangkan sekolah
- Memantau,
mengawasi, dan mengevaluasi penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Dalam
hal ini, terjadi hubungan saling memberi dan menerima antara sekolah dengan
masyarakat sekitarnya. Sekolah merealisasikan apa yang dicita-citakan oleh
anggota masyarakat mengenai pengembangan para siswa, dan menjadi mercu suar
bagi masyarakat sekitarnya, dan secara luas memberikan layanan bagi kebutuhan
daerah setempat.
Kebutuhan
daerah industry tentunya tidak sama dengan kebutuhan daerah pertanian atau
peristiwa. Begitu juga kebutuhan derah pegunungan tidak sama dengan daerah
pantai atau perkotaan. Artinya, sekolah harus siap melayani kebutuhan
masing-masing daerah ini. Sekolah berusaha mencetak tenaga kerja dan tenaga
ahli yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Dengan
demikian, tujuan utama pendidikan berbasis masyarakat adalah :
1. Membantu
pemerintah dalam memobilisasi sumber daya setempat untuk kepentingan pendidikan
serta meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengambil andil yang lebih
besar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan di semua jenjang,
jenis, dan jakur pendidikan.
2. Menstimulus
perubahan sikap dan persepsi masyarakat terhadap rasa kepemilikan sekolah,
tanggung jawab, kemitraan, toleransi, dan kesediaan menerima perbedaan sosial
dan budaya.
3. Mendukung
inisiatif pemerintah dalam meningkatkan dukungan masyarakat terhadap sekolah,
khususnya orang tua dan masyarakat melalui kebijakan desentralisasi.
4. Mendukung
peranan masyarakat untuk mengembangkan inovasi kelembagaan untuk melengkapi,
meningkatkan, dan mengganti peran sekolah, dan untuk meningkatkan mutu dan
relevansi pembukaan kesempatan yang lebih besar, peningkatan efisiensi
pendidikan dasar untuk pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar, menengah,
dan tinggi.
Pencapaian
tujuan ini sangat urgen mengingat benyaknya masalah yang menimpa sekolaah
disebabkan oleh adanya krisis ekonomi, antara lain :
1. Menurunnya
angka partisipasi dan jumlah siswa di sekolah.
2. Sulitnya
memperoleh persamaan kesempatan untuk memperoleh persamaan kesempatan untuk
memperoleh pendidikan yang berkualitas, utamanya bagi siswa yang berasal dari
golongan keluarha yang secara ekonomi, sosial, dan geografis kurang beruntung.
3. Lembaga-lembaga
pendidikan tampaknya tidak mampu mengatasi masalah pendidikan secara tuntas
tanpa keterlibatan dan partisipasi dari masyarakat setempat.
4. Sumber-sumber
dari pemerintahan tidak mampu memenuhi kebutuhan para siswa dan sekolah.
5. Perencanaan
program pendidikan oleh sekolah itu sendiri tidak dapat berjalan karena adanya
keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah untuk menggerakkan sumber daya yang
ada. Oleh karena itu, para orang tua, masyarakat, dan pemerintahan perlu secara
bersama-sama mambantu penilaian program-program.
b. Hubungan
Pendidikan dengan Kebutuhan Masyarakat
Ada beberapa
kecendrungan yang menyebabkan semakin dirasakan perlunya keterkaitan dan
kesepadanan antara pendidikan dan kebutuhan masyarakat, diantaranya:
1. Semakin
tingginya tuntutan dunia kerja yang sejalan dengan tuntutan pembangunan, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif.
2. Perubahan
struktur dan persyaratan dunia kerja yang semakin kompetitif dan mengandalkan
keahlian dalam bidang tertentu, tanpa mengabaikan wawasan dan pengetahuan
secara interdisipliner.
3. Kecendrungan
umum dalam dunia pendidikan menunjukkan adanya perubahan cara berpikir yang
memandang bahwa pendidikan semestinya menyiapkan peserta didi secara utuh,
menyangkut pengetahuan, sikap, kemauan, dan keterampilannya yang fungsional
bagi kehidupannya sebagai pribadi, warga masyarakat, dan warga negara, serta
usahanya mencari nafkah.
4. Pendidikan
dipandang sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas,
sehingga keberhasilan pendidikan ditakar
dengan menggunakan parameter-parameter yang terukur dan operasional, seperti
tingkat balikan, indeks efisiensi dan efektivitas, dan lain-lain.
Bila
dilihat dari perspektif pendidikan sebagai wahana untuk menunjang pembangunan
dalam berbagai sektor dan sub sektor, ada beberapa fakta yang memperkuat
peelunya usaha kea rah menciptakan link and match antara pendidikan dan
pembangunan, khususnya dengan dunia kerja, dunia usaha, atau dunia industry,
yaitu:
1. Tingkat
balikan pendidikan di Indonesia pada setiap jenjang masih belum begitu tinggi.
Hal ini mungkin disebabkan oleh kurang tersediannya peluang kerja dalam
masyarakat sehingga lulusan pendidikan belum secara fungsional dapat
menggunakan kemampuan yang dimiliki oleh lulusan pendidikan tersebut kurang
tidak sesuai dengan peluang kerja yang tersedia tersebut.
2. Adanya
informasi dari beberapa daerah bahwa di daerah tersebut cukup tersedia peluang
kerja, namun jika ada satu lowongan,
maka yang melamar kira-kira sepuluh orang, namun tidak seorang pun yang memenuhi syarat yang
diminta oleh dubia kerja tersebut.
3. Secara
makro, data arus peserta didik mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi masih
menunjukkan ketimpangan, yang terjadi dalam dunia kerja, yaitu perubahan dari
sektor pertanian ke industry, dari penguasan kemampuan umum ke penguasaan suatu
keterampilan khusu yang relevan dengan tuntutan dubia kerja.
Pelibatan
masyrakat untuk setiap jenjang pendidikan dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Di
Sekolah Dasar, masyarakat dilibatkan dalam mengisi muatan local mulai dari
perencanaan sampai pelaksanaan, misalnya dengan membawa peserta didik untuk mengunjungi
tempat-tempat tertentu di daerhnya, atau mengundang nara sumber ke sekolah.
2. Di
Sekolah Lanjut Tingkat Pertama, masyarakat juga dilibatkan dalam mengisi muatan
lokal, dengan lebih menekankan kepada kegiatan yang dapat membekali peserta
didik ddalam mengenal potensi dan peluang yang tersedia di lingkungan
sekitarnya serta kemampuan yang dituntut untuk memanfaatkan potensi dan peluang
tersebut.
3. Di
Sekolah Menengah Umum, keterlibatan masyrakat juga terutama dalam mengisi
muatan lokal; para siswa dimungkinkan pula untuk mengadakan praktek lapangan
sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
4. Di
Sekolah Menengah Kejuruan, keterlibatan masyarakat dalam menciptakan link and
match dilakukan lebih nayata lagi sesuai dengan tujuan institudiobalnya. Upaya
yang dilakukan adalah dengan melakukan dialog intensif dengan dunia usaha dan
industry, antara lain dengan pelaksanaan system magang.
5. Di
Perguruan Tinggi, keterlibatan masyarakat dilakukan melalui kerja sma riset dan
pengembangan, yang ditujukan dalam rangka pengembangan potensi daerah, baik di
bidang ekonomi, maupun dunia industry.
6. Pada
jalur Pendidikan Luar Sekolah,
keterlibatan masyarakat dalam menciptakan link and match ini adalah
lebih memperkuat dan mengarahkan apa yang telah ada melalui bimbingan, bantuan,
dan kemudahan dalam mendapatkan izin.
Sejumlah
institusi utama dari pengembangan pendidikan berbasis masyarakat ini antra lain
:
1. Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat, yang dirintis melalui Direktorat Pendidikan
Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional.
2. Kelompok
Kerja Sekolah dan Kelompok Kerja Madrasah, yang diarahkan untuk menghilangkan
dikotomi antara sekolah negeri dan sekolah swasta, baik di lingkungan
Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama.
3. Pengembangan
peranan pesantren agar penyelenggaraan pendidikasn dasar lebih responsif dan
dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dengan lebih menitikberatkan pada
komponen keterampilan dan muatan lokal.
4. Pengembangan
rumah ibadah sebagai lembaga pendidikan seumue hidup dan pusat pemberdayaan
masyarakat setempat.
5. Penataan
dan pemanfaatan lembag-lembaga pendidikan yang sudah mengakar di masyarakat
yang dikembangkan sendiri oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat
setempat.
Hai
ini menunjukkan bahwa prakarsa
masyarakat untuk memenuhi tuntutan layanan pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhna setempat telah mengakar di masyarakat. Lembaga-lembaga ini muncul dan
diakui keberadaannya karena dilakukan oleh masyarakat, dan masyarakat, dan
untuk masyarakat itu sendiri. Sementara disisi lain, pernan pemerintahan dalam
hal ini hanyalah memberi pengakuan dan menentukan standarisasi kemampuan para
lulusan lembaga pendidikan yang berbasis masyrakat tersebut.
c. Masyarakat
berbasis Pengetahuan Sebagai Jalur Pertumbuhan
Perubahan jalur
pertumbuhan ini lebih diakibatkan karena terjadinya ledakan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Pengetahuan menyebar ke seluruh sendi kehidupan, sehingga
sekarang kita berada si sebuah era yang disebut dengan “masyarakat berbasis
pengetahuan,”. Dalam masyarakat berbasis pengetahuan, semua tindakan didasarkan
hasil kerja ilmu pengetahuan, dan bukan semata didasarkan di luar ilmu
pengetahuan, seperti hanya berdasarkan meterialnya saja. Dalam perkembangan dan
perubahan seperti ini persaingan kreativitas menjadi semakin ketet, bahkan
cenderung melahirkan “perang” ide dan kreativitas.
Pertumbuhan dan
peningkatan berbasis pengetahuan dakam masyarakat yang tumbuh melalui kebutuhan
akan penelitian dan pengembangan. Konsep ini telah dilakukan oleh negara-negara
maju yang memiliki pertumbuhan tinggi dengan teknologi dan industry yang maju
memberi perhatian terhadap penelitian dan pengembangan.
Pertumbuhan dan
peningkatan berbasis pengethuan terhadap masyarakat adalah nilai-nilai yang
didasarkan kepada hasil kerja ilmu pengethuan, penelitian dan hasil kerja
pengkajian dan pengembangan. Oleh karena itu, hasil kerja ini menghhasilkan
pertumbuhan dan perubahan kerja individual maupun perubahan kelembagaan,
jaringan kerja dan jalinan kerja.
d. Kesimpulan
Berdasarkan uraian/pembahasan tentang topik pola pemberdayaan
masyarakat melalui aktualisasi ilmu pendidikan untuk meningkatkan partisipasi
dalam pembangunan sesuai tuntutan otonomi daerah di atas, maka dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut :
(1) Krisis
multidimensi yang sangat berat yang dihadapi Indonesia sekarang, umumnya
bermuara kepada rendahnya kualitas SDM, terutama masyarakat lapisan bawah.
(2) Pendidikan sebagai human-investment, patut
memperoleh alokasi anggaran yang lebih besar di dalam APBN.
(3) Masyarakat yang berdaya, adalah masyarakat yang
dinamis dan aktif berpartisipasi di dalam membangun diri mereka. Tidak
menggantungkan hidupnya kepada belas kasihan orang lain.
(4) Pelaksanaan otonomi daerah pada daerah Tkt.II
merupakan upaya pemberdayaan masyarakat, dimana masyarakat diharapkan dapat dan
mampu mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
e. Saran
Pemberdayaan masyarakat
di bidang pendidikan, secara khusus saran-saran ini ditunjukkan kepada:
Sarana dan prasarana
yang dibutuhkan baik oleh pendidikan anak Sekolah Dasar pemberantasan buta huruf dan keaksaraan
fungsional yang di naunginya, sehingga
pembelajaran dapat berjalan maksimal dan lebih berkualitas
Melakukan
penyuluhan-penyuluhan dalam rangka menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya pendidikan dalam meningkatkan taraf dan mutu hidup manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
UUSPN Nomor 20 Tahun
2003 bab 1 pasa 1
Syafarudin, Efektivitas
Kebijakan Pendidikan, Jakarta:Rineka Cipta, 2008, h.11
Anonim,
Pemasyarakatan Kebijakan Pendidikan Nasional (Jakarta: Depdikbud RI,
1990), hal, 2.
1990), hal, 2.
Zainudin Maliki.
Sosiologi Pendidikan. (Yogyakarta: University Gajah Mada Press)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar