TEORI-TEORI
BELAJAR MENURUT PARA AHLI
1.
TEORI
BELAJAR MENURUT DAVID AUSABLE
Menurut David
Ausable mengemukakan teori belajar bermakna (meaningful learning). Belajar adalah proses mengaitkan dalam informasi baru
dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif
seseorang. (Ratna Willis Dahar: 1996). Selanjutnya dikatakan bahwa pembelajaran
dapat menimbulkan belajar bermakna jika memenuhi prasayasat, yaitu:
1.
Materi
yang akan dipelajari melaksanakan belajar bermakna secara potensial
2.
Anak
yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna. Kebermaknaan materi
pelajaran secara potensial tergantung dari materi itu memiliki kebermaknaan
logis dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif
siswa.
Berdasarkan pandangannya tentang belajar bermakna,
maka David Ausuble mengajukan 4 prinsip pembelajaran , yaitu:
Prinsip-prinsip
1. Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal atau bahan pengait dapat digunakan
guru dalam membantu mengaitkan konsep lama denan konsep baru yang lebih tinggi
maknanya. Pemggunaan pengatur awal tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai
macam materi , terutama materi pelajaran yang telah mempunyai struktur yang
teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu pokok bahasan
sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga pembelajaran akan lebih
bermakna.
2. Diferensiasi progresif
Dalam proses belajar bermakna perlu ada pengembangan
dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang paling umum dan inklusif
diperkenalkan dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti proses
pembelajaran dari umum ke khusus.
3. Belajar superordinat
Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif
yang mengalami petumbuhan kearah deferensiasi, terjadi sejak perolehan
informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut.
Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat ditemukan
hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsepkonsep yang lebih
luas dan inklusif.
4. Penyesuaian Integratif
Pada suatu sasat siswa kemungkinan akan menghadapi
kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep
yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih satu konsep. Untuk
mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausable mengajukan konsep pembelajaran
penyesuaian integratif Caranya materi pelajaran disusun sedemikian rupa,
sehingga guru dapat menggunakan hiierarkhi-hierarkhi konseptual ke atas dan ke
bawah selama informasi disajikan. Penangkapan (reception learning). Menurut
Ausubel , siswa tidak selalu mengetahui apa yang penting atau relevan untuk
dirinya sendiri sehigga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan
kerja kognitif dalam mempelajari apa yang telah diajarkan di sekolah. Ausable
menggambarkan model pembelajaran ini dengan nama belajar penangkapan.
Inti belajar penangkapan yaitu pengajaran
ekspositori, yakni pembelajaran sistematik yang direncanakan oleh guru mengenai
informasi yang bermakna (meaningful information). Pembelajaran ekspositori itu terdiri dari tiga tahap yaitu :
1.
Penyajian advance
organizer
Advance organizer merupakan pernyataan umum yang
memeperkenalkan bagian-bagian utama yang etrcakup dalam urutan pengajaran.
Advance organizer berfungsi untuk
menghubungkan gagasan yang disajikan di dalam pelajaran dengan informasi yang telah
berda didalam pikiran siswa, dan memberikan skema organisasional terhadap
informasi yang sangat spesifik yang disajikan.
2. Penyajian materi atau tugas
belajar.
Dalam tahap ini, guru menyajikan metri pembelajaran
yang baru dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, film, atau menyajikan
tugas-tugas belajar kepada siswa. Ausuble menekankan tentang pentingnya
mempertahankan perhatian siswa, dan juga pentingnya pengorganisasian meteri
pelajaran yang dikaitakan dengan struktur yang terdapat didalam advance
organizer. Dia menyarankan suatu proses yang disebut dengan diferensiasi
progresif, dimana pembelajaran berlangsung setahap demi setahap, dimulai dari
konsep umum menuju kepada informasi spesifik, contoh-contoh ilustratif, dan
membandingkan antara konsep lama dengan konsep baru.
3. Memperkuat organisasi kognitif.
Ausuble menyarankan bahwa guru mencoba mengikatkan
informasi baru ke dalam stuktur yang telah direncanakan di dalam permulaan
pelajaran, degan cara mengingatkan siswa bahwa rincian yang bersifat spesifik
itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum. Pada akhir
pembelajaran ini siswa diminta mengjukan pertanyaan pada diri sendiri mengenai
tingkat pemahamannya terhadap pelajaran yang baru dipelajari, menghubungkannya
dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan pengorganisasian materi pembelajaran
sebagaimana yang dideskripsikan didalam advance organizer samping itu juga
memberikan pertanyaan kepada siswa dalam rangka menjajaki keluasan pemahaman
siswa tentang isi pelajaran.
Ausubel
(dalam Dahar ,1988 :142) juga menyatakan bahwa agar belajar bermakna terjadi
dengan baik dibutuhkan beberapa syarat, yaitu :
1.
Materi yang akan dipelajari harus
bermakna secara potensial,
2.
Anak yang akan belajar harus
bertujuan melaksanakan belajar bermakna sehingga mempunyai kesiapan dan niat
untuk belajar bermakna.
Dikatakan
lebih lanjut oleh Ausubel (Dahar ,1989 :141) ada tiga kebaikan dari belajar bermakna
yaitu :
(a)
Informasi yang dipelajari secara
bermakna lebih lama dapat diingat,
(b)
Informasi yang dipelajari secara
bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang
mirip,
(c) Informasi yang dipelajari secara
bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Faktor-faktor
utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur
kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang
studi tertentu dan pada waktu tertentu. Seseorang belajar dengan
mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam
prosesnya siswa mengkonstruksi apa yang ia pelajari dan ditekankan pelajar
mengasosiasikan pengalaman, fenomena,
dan fakta-fakta baru kedalam system pengertian yang telah dipunyainya.
Empat tipe
belajar menurut Ausubel, yaitu:
A.
Belajar dengan
penemuan yang bermakna
Yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi
pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang
ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang
sudah ada.
B.
Belajar dengan penemuan
yang tidak bermakna
Yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa
mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
C.
Belajar menerima
(ekspositori) yang bermakna
Materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada
siswa sampai bentuk akhir, kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan
pengetahuan yang ia miliki.
D.
Belajar menerima
(ekspositori) yang tidak bermakna
Yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara
logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudia pengetahuan yang
baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki.
Prasyarat agar belajar menerima menjadi bermakna menurut Ausubel, yaitu:
a.
Belajar menerima
yang bermakna hanya akan terjadi apabila siswa memiliki strategi belajar
bermakna,
b.
Tugas-tugas
belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa,
c.
Tugas-tugas
belajar yang diberikan harus sesuai dengan tahap perkembangan intelektual
siswa.
Kelemahan
:
1. Ketika ada
informasi yang tidak mirip atau sama maka ingatan siswa akan lupa
2. Informasi yang
lama akan lupa ketika dapat informasi baru.
Kelebihan :
1. Informasi yang dipelajari secara
bermakna lebih lama dapat diingat,
2. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses
belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip,
3. Informasi yang dipelajari secara
bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Pandangan saya
teori ini bagus untuk mengaitkan setiap informasi-informasi yang baru tetapi
setia siswa selalu dapat informasi baru, informasi yang lama akan terlupakan.
2.
TEORI
BELAJAR MENURUT SUSANTO
Susanto
(2013:4), belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan
sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau
pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilkau
yang relatif tetap baik dalam
berpikir, merasa, maupun, dalam bertindak.
Kelemahan :
1.
Perubahan yang berfikir negatif tentang
perubahan perilaku diri masing-masing.
2.
Kadang perubahan perilaku itu tanpa di
sengaja atau tidak di sadari bisa terjadi pada siswa tersebut.
Kelebihan :
1.
Sangat bagus ada perubahan pada diri
siswa tersbut
2.
Perubahan perilaku itu bisa berkembang
di sekitar kita di mana pun kita berada.
Pandangan saya
teori ini bisa diimplementasikan ke pendidikan indonesia untuk pemahana belajar
atau pengetahuan untuk merubah perilaku yang sangat relatif.
3. TEORI
BELAJAR MENURUT ROBERT GAGNE
Menurut Robert Gagne adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang
telah memperkenalkan berbagai pandangan tentang belajar, salah satunya adalah
teori pembelajaran yang didasarkan pada model pemrosesan informasi. Dalam
memahami belajar, Gagne tidak memperhatikan apakah proses belajar terjadi
melalui proses penemuan, ataupun melalui proses penerimaan sebagaimana yang
telah diperkenalkan oleh Bruner dan Ausubel. Menurut Gagne, yang terpenting dalam
belajar adalah kualitas penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.
Ada beberapa unsur yang melandasi pandangan Gagne tentang
belajar. Menurutnya, belajar bukan merupakan proses tunggal, melainkan proses
yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku. Jadi,
tingkah laku merupakan hasil dari efek komulatif belajar. Artinya, banyak
keterampilan yang telah dipelajari memberikan sumbangan bagi ketrampilan yang
lebih rumit. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, yang menghasilkan
berbagai macam tingkah laku yang berlainan yang disebut kapasitas. Kapasitas
itu diperoleh dari stimulus yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif
yang dilakukan oleh siswa.
Berdasarkan pandangannya itu, Gagne mendefinisikan
pengertian belajar secara formal bahwa belajar adalah seperangkat proses
kognitif yang mengubah sifat stimulus dari lingkungan menjadi beberapa tahap
pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapasitas yang baru.
Ragam Belajar
Kapasitas orang untuk belajar memungkinkan diperolehnya
berbagai pola tingkah laku yang hampir mirip. Berdasarkan pandangannya tentang
belajar ini Gagne menemukan bahwa ada lima ragam belajar yang terjadi pada
manusia, yaitu
1.
Informasi verbal
Informasi verbal adalah kapabilitas yang dinyatakan dengan
kategori memperoleh label, nama-nama, fakta dan bidang pengetahuan yang sudah
tersusun. Kegiatan dalam mengetahui kapabilitas informasi verbal dilakukan
dengan mengatakan, memberi nama lain yang hampir sama, membuat ikhtisar dari
informasi yang telah dipelajari.
a. Keterampilan
intelek
Keterampilan intelek adalah kapabilitas yang berupa
keterampilan yang membuat seseorang mampu dan berguna di masyarakat.
Keterampilan intelek berhubungan dengan pendidikan formal dari mulai tingkat
dasar dan seterusnya. Keterampilan intelek ini terdiri dari empat keterampilan
yang berhubungan dari yang sifatnya sederhana sampai yang rumit, yaitu belajar
diskriminasi, belajar konsep konkrit dan konsep menurut definisi, belajar
kaidah, dan belajar kaidah yang tarafnya lebih tinggi.
b. Keterampilan motorik
(gerak)
Keterampilan ini adalah kapabilitas
yang mendasari perbuatan jasmani termasuk keterampilan yang bersifat sederhana.
Ciri umum ketrampilan ini adalah membutuhkan prasyarat untuk mengembangkan
kemulusan atau kehalusan bertindak dan pengaturan waktu. Keterampilan ini bila
sering dipraktekan akan bertambah sempurna. Untuk itu dalam mengajarkannya
perlu banyak pengulangan atau latihan-latihan disertai umpan balik lingkungan.
c. Sikap
Sikap adalah kapabilitas yang
mempengaruhi pilihan tentang tindakan mana yang perlu diambil. Ciri kapabilitas
ini adalah tidak menentukan tindakan khusus yang akan diambil. Belajar
memperoleh sikap didasarkan pada informasi tentang tindakan apa yang perlu
dilakukan dan apa akibatnya.
d. Siasat kognitif
Siasat kognitif adalah kapabilitas yang mengatur bagaimana
siswa megelola belajarnya, seperti mengingat atau berpikir dalam rangka
mengendalikan sesuatu untuk mengatur suatu tindakan. Hal ini mempengaruhi
perhatian siswa dan informasi yang tersimpan dalam ingatannya. Kapasitas ini mempengaruhi
siasat siswa dalam rangka menemukan kembali hal-hal yang telah tersimpan.
Siasat kognitif sama dengan proses berpikir siswa sendiri.
Kelima
ragam ini belajar ini diperoleh dengan cara yang berlainan, yaitu masing-masing
memerlukan keterampilan prasyarat yang berbeda dan perangkat langkah proses
kognitif yang berbeda pula yang disebut kondisi belajar internal.
Kesembilan peristiwa pembelajaran yang ada pada setiap fase
belajar dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Membangkitkan perhatian. Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah menarik
perhatian siswa agar mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran.
Perhatian siswa dapat ditingkatkan dengan memberikan berbagai rangsangan sesuai
dengan kondisi yang ada, misalnya dengan perubahangerak badan (berjalan,
mendekati siswa, dan lain-lain), perubahan suara, menggunakan berbagai media
belajar yang dapat menarik perhatian dan menunjukan atau menyebutkan
contoh-contoh yang ada didalam kelas atau diluar kelas, dan lain-lain.
b. Memberitahukan tujuan pembelajaran pada siswa. Agar siswa mempunyai pengharapan
dan tujuan selama belajar maka kepada siswa perlu dijelaskan tujuan apa saja yg
perlu dicapai selama pembelajaran, mafaat materi yang akan dipelajari bagi
siswa, dan tugas-tugas yang harus diselesaikan selama pembelajaran. Keuntungan
menjelaskan tujuan adalah agar siswa dapat menjawab sendiri pertanyaan apakah
ia telah belajar? Apakah materi yg dipelajari telah dikuasai? Jawaban atas
pertanyaan tersebut dapat membangkitkan harapan dalam diri siswa tentang
kemampuan dan upaya yang harus dilakukan agar tujuan tercapai.
c. Merangsang ingatan pada materi prasyarat. Bila siswa telah memiliki perhatian
dan pengharapan yang baik pada pelajaran,guru perlu mengingatkan siswa pada
materi apa saja yang telah dikuasai sehubungan dengan materi yang akan
diajarkan. Dengan pengetahuan awal yang ada pada memori kerjanya diharapkan
siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan yg lama dengan pengetahuan
yang baru yang akan dipelajari. Ada banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk
mengigatkan siswa pada materi yang telah dipelajari, misalnya dengan
mengigatkan siswa pada topik-topik yang telah dipelajari dan meminta siswa
untuk menjelaskan secara singkat.
d. Menyajikan bahan perangsang. Peristiwa pembelajaran keempat adalah menyajikan bahan
kepada siswa berupa pokok-pokok materi yang penting yang bersifat kunci.
Sebelum itu guru sudah harus menentukan bahan apa yang akan disajikan, apakah
berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, atau belajar sikap.
Berdasarkan jenis kemampuan/bahan ini maka dapat dipilih bentuk kegiatan apa
yang akan disajikan sehingga proses pembelajaran berjalan lancar. Misalnya bila
akan mengajarkan sikap, pilihlah bahan yang berupa model-model perilaku
manusia. Bila akan mengajarkan keterampilan motorik, demonstrasikan contoh
bahan keterampilan tersebut dan tunjukan caranya secara tepat.
e. Memberi bimbingan belajar. Bimbingan belajar diberikan dengan tujuan untuk membantu
siswa agar mudah mencapai tujuan pelajaran atau kemampuan-kemampuan yang harus
dicapainya pada akhir pelajaran. Misalnya, bila siswa menguasai konsep-konsep
kunci, berilah cara mengingat konsep-konsep tersebut misalnya dengan
menjelaskan karakteristik dari setiap konsep. Bila siswa harus menguasai suatu
keterampilan tertentu maka bimbinglah dengan cara menjelaskan langkah-langkah
yang harus ditempuh untuk menguasai keterampilan tersebut. Dalam hal ini
bimbingan belajar harus diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa
beserta kesulitan-kesulitannya.
f. Menampilkan unjuk kerja. Untuk mengetahui apakah siswa telah
mencapai kemampuan yang diharapkan, mintalah mereka untuk menampilkan
tindakannya dalam bentuk tindakan yang dapat diamati oleh guru. Misalnya, bila
ingin mengetahui kemampuan informasi verbal siswa, beri siswa
pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengukur tingkat penguasaanya atau bila ingin
mengetahui keterampilan siswa maka mintalah mereka melakukan suatu tindakan
tertentu. Jawaban yang diberikan siswa hendaklah sesuai dengan kemampuan yang diminta
dalam tujuan pembelajaran.
g. Memberikan umpan balik. Memberikan umpanbalik merupakan
fase belajar yang terpenting. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik umpan balik
diberikan secara informatif dengan cara memberikan keterangan tentang tingkat
untuk kerja yang telah dicapai siswa. Misalnya, jelaskan jawaban yang sudah
lengkap dan yang perlu dilengkapi atau dipelajari kembali oleh siswa dengan
cara “sudah baik”, “pelajari kembali”, atau “lengkapi”. Dan lainlain.
h. Menilai untuk kerja. Merupakan peristiwa pembelajaran yang bertujuan untuk
menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum. Untuk itu perlu dibuat
alat penilaian yang relevan dengan tujuan sehingga dapat untuk mengukur tingkat
pencapaian belajar siswa.
i. Meningkatkan retensi. Peristiwa pembelajaran terakhir yang harus dilakukan guru
adalah upaya untuk meningkatkan retensi dan alih belajar. Guru perlu memberikan
latihan-latihan dalam berbagai situasi agar siswanya dapat mengulangi dan
menggunakan pengetahuan barunya kapan saja jika diperlukan.
Menurut Gagne, yang terpenting dalam pembelajaran adalah
menciptakan suatu kondisi pembelajaran (eksternal) yang dirancang untuk
mendukung terjadinya proses belajar yang bersifat internal.
Kelemahan :
1. belajar perlu didukung oleh suatu
peristiwa pembelajaran tertentu agar pada setiap belajar menghasilkan aktivitas belajar yang maksimal dalam diri siswa.
2.
belajar
ini sangat penting karena selalu ada dalam setiap tindakan belajar dan
digunakan secara berlainan pada belajar yang berlainan pula.
Kelebihan :
1. Membangkitkan perhatian
2.
Memberitahukan
tujuan pembelajaran pada siswa
3.
Merangsang
ingatan pada materi prasyarat
4.
Memberi
bimbingan belajar
5. Memberikan umpan balik.
Pandangan saya Kapasitas orang untuk belajar memungkinkan diperolehnya
berbagai pola tingkah laku yang hampir mirip.
4.
Teori Belajar menurut Bruner
Belajar merupakan
aktifitas yang berproses, tentu didalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap.
Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dan
lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. belajar adalah
cara-cara bagaimana seseorang memilih mempertahankan, dan mentransformasikan
informasi yang diterimanya secara aktif.Dalam memandang proses belajar, Brunner
menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang.
Selain itu Bruner
menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh
informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan
belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu
aturan atau kesimpulan tertentu. Menurut pandangan Brunner (1964) bahwa teori
belajar itu bersifat deskriftif.
Dalam bukunya yang berjudul Process of Education, Bruner menerangkan bahwa dalam proses belajar
ada tiga faktor yang mempengaruhi kelancaran proses tersebut. Tiga faktor ini
sangat ditekankan dan harus menjadi perhatian guru di dalam menyelenggarakan
pembelajaran.
Tiga
factor dalam menyelenggarakan pembelajaran yaitu:
1. Pentingnya memahami
struktur mata pelajaran
Struktur mata pelajaran berisi
ide-ide, konsep-konsep dasar, hubungan antar konsep, atau contoh-contoh dari
bidang tersebut yang dianggap penting. Strutuk penting dari suatu ide ini dapat
disajikan secara sederhana dalam bentuk diagram, serangkaian prinsip ataupun
formula. Dengan struktur pengetahuan kita dapat menolong parasiswa untuk dapat
melihat fakta-fakta yang tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu sama lain,
demikian juga untuk informasi yang baru juga dapat dihubungkan. Karenanya,
Bruner sangat menekankan pada pentingnya struktur mata pelajaran dalamn
menyajikan materi pembelajaran. Menurut Bruner proses belajar akan lebih
bermakna, berguna dan mudah diingat oleh siswa bila difokuskan pada pemahaman
tentang struktur mata pelajaran yang akan dipelajari.
2. Kesiapan untuk
belajar
Dalam belajar, guru harus
memperhatikan kesiapan siswa untuk mempelajari materi baru atau yang bersifat
lanjutan. Kesiapan belajar dapat terdiri atas penguasaan
ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang telah dikuasai terlebih
dahulu dan yang memungkinkan sesorang untuk memahami dan mencapai ketrampilan
yang lebih tinggi. Untuk mengetahui apakah anak tersebvut telah memiliki
kesiapan dalam mempelajari materi pelajaran tertentu maka perlu diberikan tes
mengenai materi awal yang berhubungan dengan topik yang akan diajarkan. Bila
siswa dapat mengerjakan tes dengan baik, berarti aia telah siap. Bila tidak
mampu mengerjakan sekalipun ia telah bekerja keras ia dinyatakan belom siap.
Untuk menumbuhkan kesiapan anak seorang guru harus memberikan
pengalaman-pengalaman tertentu yangberhubungan dengan pengetahuan atau
ketrampilan yang harus dikuasai.
3. Intuisi
Menurut Bruner yang dimaksud dengan
intuisi adalah tenik-teknik intelektual analitis untuk mengetahui apakah
formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak.
4. Motivasi
Motivasi adalah
kondisi khusus yang dapat mempengaruhi individu untuk belajar. Motivasi
merupakan hal yang penting khusunya selama proses pembelajaran yang dapat
mendorong kemauan belajar siswa. Karenanya, Bruner percaya bahwa hampir semua
anak mempunyai masa-masa pertumbuhan akan “keinginan untuk blajar”. Bruner juga
menekankan pentingnya motivasi intrinsik dibandingkan dengan motivasi internal.
Contoh motivasi intrinsik adalah rasa ingin tahu anak. Bahwa dunia ini akan
dapat dikenal dan dikuasai anak dengan menggunakan kesadaran “ingin tahu”.
Motivasi lain yang dapat membawa kita pada dunia ini adalah dengan memiliki
berbagai kompetensi. Anak-anak nantinya akan merasa tertarik untuk mempelajari
hal-hal yang mereka anggap biasa dan telah dikuasai. Suatu hal yang tidak
mungkin adalah memotivasi anak agar menguasai sesuatu yang mereka tidak biasa
dan tidak kuasai.
Belajar
Penemuan dari Bruner, Manfaat, dan Contoh Penerapannya dalam Pembelajaran
Belajar penemuan (discovery
learning) merupakan salah satu model pembelajaran atau belajar kognitif
yang dikembangkan oleh Bruner (1966). Menurut Bruner belajar bermakna hanya
dapat terjadi melalui belajar penemuan. Agar belajar menjadi bermakna dan
memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi
prinsip-prinsip kunci yang ditemukannya sendiri, bukan hanya sekedar menerima
penjelasan dari guru saja.
Bruner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar
dimana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus
siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, mendorong siswa mencari jawaban sendiri,
dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru
menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat
menemukan sendiri hubungan antar konsep. Menurut Bruner, belajar penemuan pada
akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas
dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan
masalah yang ditemui dengna pengetahuan yang telah dimiliki dan menghasilkan
pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.
Adapun manfaat belajar penemuan
sebagai berikut:
1. Belajar penemuan dapat digunakan untuk
menguji apakah belajar sudah bermakna.
2.
Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tersimpan lama dan mudah diingat.
3.
Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang
diinginkan
adalah agar siswa dapat mendemonstrasikan
pengetahuan yang diterimanya.
4.
Transfer dapat ditingkatkan setelah generalisasi ditemukan sendiri oleh siswa.
5.
Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan
motivasi belajar.
6.
Belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir
secara bebas.
Tahap-tahap penerapan belajar penemuan sebagai berikut:
1. Stimulus
(pemberian perangsang atau stimuli); kegiatan belajar dimulai dengan
memeberikan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan
mendorongnya untuk membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada
persiapan pemecahan masalah.
2. Problem statement (mengidentifikasi
masalah); memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebnyak
mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan
merumuskannya dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara dari masalah tersebut).
3. Data
collection (pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada siswa
mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar
tidaknya hipotesis tersebut.
4. Data processing (pengolahan data);
mengolah data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi,
dan lain-lain. Data tersebut kemudian ditafsirkan.
5. Verifikasi; mengadakan pemeriksaan secara
cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang ditetapkan dan
dihubungkan dengan hasil dan pengolahan data.
6.
Generalisasi; mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip
umum yang berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan
memperhatikan hasil verifikasi.
Kelebihan :
1.
Belajar
penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna.
2.
Pengetahuan yang diperoleh si belajar akan
tertinggal lama dan mudah diingat.
3.
Belajar
penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan dalam
belajar agar si belajar dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterima.
4.
Transfer
dapat ditingkatkan di mana generalisasi telah ditemukan sendiri oleh si belajar
daripada disajikan dalam bentuk jadi.
5.
Penggunaan
belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.
6.
Meningkatkan penalaran si belajar dan
kemampuan untuk berfikir secara bebas.
Kelemahan :
1.
Belajar
Penemuan ini memerlukan kecerdasan anak yang tinggi. Bila kurang cerdas,
hasilnya kurang efektif.
2.
Teori
belajar seperti ini memakan waktu cukup lama dan kalau kurang terpimpin atau
kurang terarah dapat menyebabkan kekacauan dan kekaburan atas materi yang
dipelajari.
Pandangan sayan bila yg kurang cerdas hasilnya tidak efektif
kita bisa latih siswa tersebut setiap hari,y maka anak tersebut bisa mengikuti pelajaran terebut.
Sumber :
http://ninamath.wordpress.com/2013/03/14/teori-belajar-bruner/
5. TEORI
BELAJAR MENURUT THORNDIKE
Menurut
Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara
peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus
adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk
mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah
sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam
eksperimennya, Thorndike menggunakan kucing. Dari eksperimen kucing lapar yang
dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) tersebut diketahui bahwa supaya tercapai
hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons
yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan
kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar
adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan
berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang
dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar
koneksionisme atau teori asosiasi.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan
hukum-hukum belajar sebagai berikut
a. Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin
siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan
tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi
cenderung diperkuat.
b. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin
sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan
semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang
merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena
latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak
dilanjutkan atau dihentikan. Sehingga prinsip dari hokum ini menunjukkan bahwa
prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi
pelajaran akan semakin dikuasai.
c. Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon
cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika
akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin
lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat
menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya,
suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan
tidak akan diulangi.
Selain tiga
hukum di atas Thorndike juga menambahkan hokum lainnya dalam belajar yaitu
Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response), Hukum Sikap ( Set/ Attitude),
Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element), Hukum Respon by
Analogy, dan Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting).
Kelemahan :
-
Suatu
perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain
kali akan diulangi.
-
Banyak
murid yang jarang mengulangi materi pelajaran itu di rumah.
Kelebihan :
-
prinsip utama dalam belajar adalah
ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
6.
TEORI BELAJAR MENURUT B.F SKINNER
Belajar itu adalah tingkah laku.
Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya
perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkung
Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan
kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut
fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara
seksama. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya
sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Aplikasi teori skinner terhadap
pembelajaran.
Beberapa aplikasi teori belajar
Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
· Bahan yang dipelajari dianalisis
sampai pada unit-unit secara organis.
· Hasil berlajar harus segera
diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika
benar diperkuat.
· Proses belajar harus mengikuti irama
dari yang belajar.
· Materi pelajaran digunakan sistem modul.
· Tes lebih ditekankan untuk kepentingan
diagnostic.
· Dalam proses pembelajaran lebih
dipentingkan aktivitas sendiri.
· Dalam proses pembelajaran tidak
dikenakan hukuman.
· Dalam pendidikan mengutamakan mengubah
lingkungan untuk mengindari pelanggaran
agar tidak menghukum.
· Tingkah laku yang diinginkan pendidik
diberi hadiah.
· Hadiah diberikan kadang-kadang (jika
perlu)
· Tingkah laku yang diinginkan,
dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
· Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan
shaping.
· Mementingkan kebutuhan yang akan
menimbulkan tingkah laku operan.
· Dalam belajar mengajar menggunakan
teaching machine.
· Melaksanakan mastery learning yaitu
mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya
masing-masing karena tiap anak
berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat
sekolah dalam waktu yang
berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
Kelebihan
Pada teori ini,
pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan
dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya
pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan
terjadinya kesalahan.
Kekurangan
Beberapa
kelemahan dari teori ini berdasarkan
analisa adalah bahwa: (i) teknologi
untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil
bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar
diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian.
Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat
membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal
tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan
melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Pandangan saya tentang teori ini tentang
terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana
organisme berinteraksi dengan lingkungannya. banyak tingkah laku menghasilkan
perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap
organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Margaret E. Bell Gredler, 1994. Belajar
dan pembelajaran. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
7. Teori
belajar menurut PIAGET
Teori menurut piaget Belajar
dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya
pengalaman dan sifatnya relatif tetap.Teori Piaget mengenai terjadinya belajar
didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan.Piaget
memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut
pikiran.Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian
terhadap lingkungan.
PENDAPAT PIAGET TENTANG PENDIDIKAN
Menurut
Piaget, pengalaman pendidikan harus dibangun di seputar struktur kognitif
pembelajar. Anak-anak berusia sama dan dari kultur yang sama cenderung memiliki
kognitif yang sama, tetapi adalah mungkin bagi mereka memiliki sturktur
kognitif yang berbeda dan karenanya membutuhkan materi belajar yang berbeda
pula. Di satu sisi, materi pendidikan yang tidak bisa diasimilasikan ke
struktur kognitif anak tidak akan bermakna bagi si anak. Jika di sisi lain,
materi bisa diasimilasi secara komplet, tidak akan ada proses belajar yang terjadi.
Agar belajar tejadi, materi perlu sebagian sudah sebagian diketahui dan
sebagian belum. Bagian yang sudah diketahui akan diasimilasi, dan bagian yang
belum diketahui akan menimbulkan modifikasi dalam struktu kognitif anak.
Modifikasi ini disebut akomodasi, yang dapat disamakan dengan belajar.
Jadi,
menurut Piaget, pendidikan yang optimal membutuhkan pengalaman yang menantang
bagi si pembelajar sehingga proses asimilasi dan akomodasi dapat menghasilkan
pertumbuhan intelektual. Untuk menciptakan pengalaman ini, guru harus tahu
level fungsi struktur kognitif siswa. Piaget (kaum kognitif) dan kaum
behaviorisme, menyimpulkan bahwa pendidikan harus diindividualisasikan. Piaget
mendapatkan kesimpulan ini dengan menyadari bahwa kemampuan untuk mengasimilasi
dan bervariasi dari anak ke anak yang lain dan bahwa materi pendidikan harus
disesuaikan dengan struktur kognitif anak. Behavioris mendapatkan kesimpulan
dengan menyadari bahwa penguatan haruslah kontingen (bergantung) pada perilaku
yang tepat, dan penyaluran penguat yang tetap membutuhkan hubungan tatap muka
antara satu guru dengan satu murid atau antara murid dan materi pendidikan.
Kondisi
optimal untuk belajar
Jika
sesuatu tak bisa diasimilasikan ke dalam struktur kognitif organisme, ia tak
dapat bertindak sebagai stimulus biologi. Sehingga struktur kognitif
menciptakan lingkungan fisik (jasmani).Saat struktur kognitif semakin meluas,
lingkungan fisik teratikulasikan dengan lebih baik.Demikian pula, jika sesuatu
sangat jauh dari struktur kognitif organisme sehingga tidak bisa diakomodasi,
tidak akan terjadi belajar. Agar belajar optimal terjadi, informasi harus
disajikan sedemikian rupa sehingga dapat diasimilasikan ke dalam sturtuk
kognitif tersebut. Jika informasi tidak dapat diasimilasikan, maka ia tak bisa
dipahami. Tapi jika sesuatu sudah dipahami dengan sempurna, tidak diperlukan
proses belajar.
Dalam
teori Piaget asimilasi dan pemahaman mempunyai pengertian yang serupa. Sehingga
Dollard dan Miller mengistilahkannya sebagai “dilema belajar”, yang menunjukkan
semua proses belajar bergantung pada kegagalan. Menurut Piaget, kegagalan
pengetahuan sebelumnya untuk mengasimilasikan suatu pengalaman akan menyebabkan
akomodasi, atau proses belajar baru. Pengalaman harus cukup menantang agar memicu
perkembangan kognitif. Sekali lagi, pertumbuhan akan terjadi jika hanya
asimilasi terjadi.
Piaget
mendukung hubungan tatap muka (satu-satu) antara guru dan murid dalam
pembelajaran. Dengan alasan seseorang harus menentukan jenis struktur kognitif
apa yang tersedia bagi individu dan pelan-pelan mengubah struktur ini sedikit
demi sedikit.
Piaget sering dianggap nativis yang percaya
bahwa perkembangan intelektual terjadi sebagai hasil dari kematangan biologis,
namun anggapan ini tak sepenuhnya benar.Ia percaya bahwa pendewasaan hanya
menyediakan kerangka untuk perkembangan intelektual. Selain itu, ada pula
pengalaman fisik maupun sosial yang sangat penting bagi perkembangan mental.
Pada tahun 1958 Piaget dan Inhelder mengemukakan
“pendewasaan sistem syaraf tak bisa melakukan lebih dari penentuan totalitas
kemungkinan dan kemustahilan pada tahap tertentu.Lingkungan sosial tertentu
jelas tidak bisa diabaikan agar kemungkinan-kemungkinan dapat
direalisasikan.Realisasi ini dapat dipercepat atau diperlambat oleh fungsi
kultural dan kondisi pendidikan”.
Piaget
juga mengatakan “manusia sejak lahir sudah berada dalam lingkungan fisik dan
sosial yang mempengaruhinya. Masyarakat dalam pengertian lebih dari sekedar
lingkungan fisik dan lingkungan sosial bisa mengubah struktur dasar individu,
sebab ia bukan hanya individu untuk mengenali fakta, tapi juga memberinya
sistem tanda yang sudah siap, yang akan memodifikasi pemikirannya, lingkungan
sosial akan memberinya nilai-nilai baru dan menetapkan serangkaian kewajiban kepadanya”.
Kontribusi teori
Piaget dalam belajar
Berbeda dengan teori belajar lain seperti yang telah kita
pelajari, Piaget tidak mudah dikategorikan sebagai teoritisi penguatan, atau
teoretisi kontinguitas. Seperti para periset lainnya yang secara longgar
disebut sebagai aliran kognitif, dia mengasumsikan bahwa belajar terjadi kurang
lebih secara kontinu dan belajar melibatkan akuisi informasi dan representasi
kognitif dari informasi itu. Kontribusi unik Piaget dalam perspektif umum ini
adalah ia telah mengidentifikasi aspek kualitatif dalam belajar. Secara
spesifik, aspek asimilasi dan akomodasinya mengidentifikasi dua tipe pengalaman
belajar. Keduanya adalah proses belajar, keduanya melibatkan akuisi dan
penyimpanan informasi. Namun asimilasi adalah jenis belajar yang statis,
dibatasi oleh struktur kognitif yang ada; akomodasi adalah proses pertumbuhan
progresif dari struktur kognitif yang mengubah karakter dari semua proses
belajar selanjutnya.
8.
TEORI
BELAJAR MENURUT LEV VYGOTSKY
Menurut
Lev Vygotsky. Ia mengatakan bahwa belajar adalah jalan pikiran seseorang harus
dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami
pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang ada di balik otaknya
dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal usul tindakan sadarnya, dari
interaksi social yang dilatari oleh sejarah hidupnya.
Mekanisme
teori yang digunakan untuk menspesifikasi hubungan antara pendekatan
sosio-kultural dan pemfungsian mental didasarkan pada tema mediasi semiotik,
yang artinya adalah tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang
terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penengah antara rasionalitas dalam
pendekatan sosio-kultural dan manusia sebagai tempat berlangsungnya proses
mental.
Menurut
Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut
dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran social bersifat primer, sedangkan
dimensi individualnya bersifat derivative atau merupakan turunan dan bersifat
sekunder. Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari
sumber-sumber sosial di luar dirinya. Konsep-konsep penting teori sociogenesis
Vygotsky tentang perkembangan kognitif yang sesuai dengan
revolusi-sosiokultural dalam teori belajar dan pembelajaran.
Perkembangan kognitif yaitu:
a. Hukum genetik tentang
perkembangan (genetic law of development)
Menurut
Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumuh dan berkembang melewati dua
tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang memebentuk lingkungan
sosialnya, dan tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan.
Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai
faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta
perkembangan kognitif seseorang.
b. Zona perkembangan proksimal
(zone of proximal development)
Menurut
Vygotsky, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua
tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan perkembangan potensial. Tingkat
perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan
tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Ini disebut
kemampuan intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari
kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah
ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman
sebaya yang lebih kompeten, ini disebut kemampuan itermental. Jarak antara
keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan potensial ini disebut zona
perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai
fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada
proses pematangan. Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini
mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci
yang perlu dicatat adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen
atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat context dependent
atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai fundamental dalam
belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
c. Mediasi
Ada
dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif. Mediasi
metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk
melakukan regulasi diri, meliputi self planning, self-monitoring,
self-checking, dan self-evaluating. Sedangkan mediasi kognitif adalah
penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan
tertentu atau subject-domain problem serta berkaitan pula dengan konsep spontan
(yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya).
Pendekatan
kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian
berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya.
Kelemahan
:
- Tidak
semua fikiran orang itu bisa di baca oleh setiap orang.
- Dan
fikiran orang bisa berubah-ubah kapan saja.
Kelebihan
:
- Yang
bisa membaca fikiran seseorang itu hanya orang tertentu saja.
- Dan
perilaku seseorang itu bisa mengisyaratkan bahwa fikiran dia sedang memikirkan
sesuatu.
Pandangan saya terhadap teori ini adalah
pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber
sosial di luar dirinya.
9.
TEORI BELAJAR MENURUT REIGELUTH
Reigeluth (1983 dalam Degeng ,1990)
Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai tujuan, dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah
sebabnya variabel yang diamati dalam mengembangkan teori belajar adalah
metode yang optimal untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori
pembelajaran variabel yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari
interaksi antara metode dan kondisi. Dengan kata lain teori pembelajaran
mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologis
dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara
kegiatan siswa dengan proses psikologis dalam diri siswa.
Kelebihan
:
1. Lebih
terkonsep sehingga siswa lebih memahami materi yang akan disampaikan.
2. Mendorong
siswa untuk mencari sumber pengetahuan sebanyak – banyaknya dalam mengerjakan
suatu tugas.
Kelemahan
:
1. kurang
memperhatikan sisi psikologis siswa dalam mendalami suatu materi.
2. Membutuhkan
waktu cukup lama
Pandangan
menurut saya adalah lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang
jelas banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar mengoptimalisasikan
kerja otak secara maksimal.
10. TEORI
BELAJAR MENURUT EDWIN GUTHRIE
Edwin Guthrie menggunakan
variable stimulus dan respon untuk menjelaskan proses terjadinya belajar. Namun
ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau
pemuasan biologis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Clark dan Hull.
Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan
respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh karena itu dalam kegiatan belajarnya
peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara
stimulus dan respon bersifat lebih tetap.
Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul
sifatnya lebih kuat dan bahkan bersifat tetap, maka diperlukakan berbagai macam
stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa
hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Tidak semua
hukum bisa efektif dalam pembelajaran, efektifitas hukuman juga ditentukan oleh
lingkungan, karakter siswa dan ideologi yang di miliki siswa terhadap gurunya.
Kelemahan
:
-
Banyak siswa yang tidak menghubungan
antara stimulus dan respon
Kelebihan
:
-
Sangat bagus terhaadap siswa di berikan
stimulus dan respon setiap harinya.
Menurut
saying terhadap teori ini Perilaku yang diinginkan
mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan
negative.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Dahar, R.W. 1988. Teori-teori
Belajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti. Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan : Jakarta.
2. Susanto,
Ahmad. 2013. Teori Belajar Pembelajaran di sekolah Dasar. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
3. B.F.
Skinner and radical behaviorism, Ali, Muh. 1978. Guru
Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
4. Kasim, Anwar. 2010. Psikologi
Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
5. Udin S. Winataputra,
dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: Universitas Terbuka.
6. Hartini, Eveline.
2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.
Bogor: Ghalia Indonesia.