Selasa, 16 Juni 2015

pembelajaran membaca permulaan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak.
            Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Keterampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. Oleh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1990). Pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mempunyai rumusan masalah sebagai berikut :
A.    Apa yang dimaksud dengan membaca permulaan itu ? apa pentingnya membaca permulaan serta apa tujuan membaca permulaan terhadap peserta didik ?
B.     Apa yang dimaksud dengan membaca intensif ? apa tujuan serta karakteristik membaca intensif itu ?
C.     Bagaimana menjelaskan isi teks 100-150 kata melalui membaca intensif kepada peserta didik ?



C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan dalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Dapat mengetahui pengertian membaca permulaan, pentingnya membaca permulaan serta tujuan membaca permulaan terhadap peserta didik.
2.      Dapat mengetahui pengertian membaca intensif, tujuan membaca intensif serta karakteristik membaca intensif.
3.      Dapat menjelaskan isi teks 100-150 kata melalui membaca intensif kepada peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pembelajaran Membaca Permulaan
      Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tertulis, yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca, seseorang akan dapat memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan itu akan memungkinkan orang tersebut mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangan dan memperluas wawasannya. Dengan demikian maka kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat diperlukan oleh siapapun yang ingin maju dan meningkatkan diri. Oleh sebab itu, pembelajaran membaca di sekolah mempunyai peranan penting.
      Pembelajaran membaca memang benar-benar mempunyai peranan penting; sebab selain manfaat seperti yang telah disebutkan di atas, melalui pembelajaran membaca, guru dapat berbuat banyak dalam proses pengindonesiaan anak-anak Indonesia. Dalam pembelajaran membaca, guru dapat memilih wacana-wacana yang memudahkan penanaman nilai-nilai keindonesiaan pada anak didik; misalnya wacana yang berkaitan dengan tokoh nasional, kepahlawanan, kenusantaraan, dan kepariwisataan. Selain itu, melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik (Akhadiah, 1992:29). Pembelajaran membaca di kelas I, kelas II dan III merupakan pembelajaran membaca tahap awal, dan merupakan dasar pembelajaran membaca di kelas berikutnya.
1.      Pentingnya Membaca Permulaan
            Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru, sebab jika dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang memadai. Padahal, seperti telah diuraikan pada awal bab ini, kemampuan membaca sangat diperlukan oleh setiap orang yang ingin memperluas pengetahuan dan pengalaman, mempertajam penalaran, untuk mencapai kemajuan dan peningkatan diri. Oleh sebab itu, bagaimana pun guru kelas I, kelas II dan III haruslah berusaha sungguh-sungguh agar ia dapat memberikan dasar kemampuan membaca yang memadai kepada anak didik. Hal itu akan dapat terwujud melalui pelaksanaan pembelajaran yang baik. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran secara baik, perlu ada perencanaan; baik mengenai materi, metode, maupun pengembangannya.
2.      Tujuan Membaca Permulaan
            Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas III. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami suatu bacaan, menjawab dan membuat pertanyaan tentang bacaan, menemukan pokok pikiran suatu bacaan dan siswa dapat meringkas suatu bacaan dengan mengutamakan kejelasan informasi. Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini sering disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn).  Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan.
B.     Membaca Intensif
1.      Pengertian Membaca Intensif
            Membaca intensif merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk membaca secara cermat untuk memahami suatu teks secara cepat dan akurat. Kemampuan membaca intensif adalah kemampuan memahami detail secara akurat, lengkap dan kritis terhadap fakta, konsep, gagasan, pendapat, pengalaman, pesan dan perasaan yang ada pada wacana tulis. Dalam membaca, para pembaca hanya membaca satu atau beberapa pilihan dari bahan bacaan yang ada dan bertujuan untuk menumbuhkan serta mengasah kemampuan membaca secara kritis. Kegiatan membaca seperti ini biasanya dilakukan bila pembaca mempunyai maksud meneliti, memahami, menganalisis, atau memberikan kritikan dan kesimpulan terhadap isi teks tersebut. Dalam membaca intensif yang diutamakan bukanlah hakikat keterampilan -keterampilan yang tampak atau hal-hal yang menarik perhatian, melainkan hasil-hasilnya; dalam hal ini suatu pengertian, suatu pemahaman yang mendalam serta terperinci terhadap teks yang dibaca.
            Kemampuan membaca intensif adalah kemampuan memahami detail secara akurat, lengkap, dan kritis terhadap fakta, konsep, gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan yang ada pada wacana tulis. Membaca intensif sering diidentikkan dengan teknik membaca untuk belajar. Dengan keterampilan membaca intensif pembaca dapat memahami baik pada tingkatan lateral, interpretatif, kritis, dan evaluatif. Aspek kognitif yang dikembangkan dengan berbagai teknik membaca intensif tersebut adalah kemampuan membaca secara komprehensif.
            Membaca komprehensif merupakan proses memahami paparan dalam bacaan dan menghubungkan gambaran makna dalam bacaan dengan skema pembaca guna memahami informasi dalam bacaan secara menyeluruh. Kemampuan membaca intensif mencakup:
a)      Pemahaman inferensial artinya kegiatan membaca yang dilakukan dengan tujuan untuk  mengambil kesimpulan dalam sebuah bacaan.
b)      Pemahaman kritis artinya kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, mendalam, evaluatif dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan.
c)      Pemahaman kreatif adalah kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secra kreatif menerapkan hasil membaca untuk kehidupan sehari-hari.
2.      Tujuan Membaca Intensif
            Tujuan membaca intensif adalah untuk mengembangkan keterampilan membaca secara detail dengan menekankan pada pemahaman kata, kalimat, pengembangan kosakata dan juga pemahaman keseluruhan isi wacana.
3.      Karakteristik Membaca Intensif
Karakteristik membaca intensif mencakup:
a)      Membaca untuk mencapai tingkat pemahaman yang tinggi dan dapat mengingat dalam waktu yang lama.
b)      Membaca secara detail untuk mendapatkan pemahaman dari seluruh bagian teks.
c)      Cara membaca sebagai dasar untuk belajar memahami secara baik dan mengingat lebih lama.
d)     Membaca intensif bukan menggunakan cara membaca tunggal (menggunakan berbagai variasi teknik membaca seperti scanning, skimming, membaca komprehensif, dan teknik lain).
e)      Tujuan membaca intensif adalah pengembangan keterampilan membaca secara detail dengan menekankan pada pemahaman kata, kalimat, pengembangan kosakata, dan juga pemahaman keseluruhan isi wacana.
f)       Kegiatan dalam membaca intensif melatih siswa membaca kalimat-kalimat dalam teks secara cermat dan penuh konsentrasi. Kecermatan tersebut juga dalam upaya menemukan kesalahan struktur, penggunaan kosakata, dan penggunaan ejaan/tanda baca.
g)      Kegiatan dalam membaca intensif melatih siswa untuk berpikir kritis dan kreatif.
C.    Menjelaskan Isi Teks 100-150 Kata Melalui Membaca Intensif
      Isi materi dalam makalah ini disesuaikan dengan Kompetensi Dasar 3.2 menjelaskan isi teks 100-150 kata melalui membaca intensif, yang diberikan kepada siswa kelas 3 semester 1 dengan Tema : Pahlawan.
      Contoh materi yang akan di berikan adalah seperti bacaan di bawah ini :
Membaca Teks Secara Intensif (100-150 kata)
            Membaca intensif adalah membaca sungguh-sungguh untuk mengetahui isi bacaan. Membaca intensif tidak diucapkan dengan keras. Kamu cukup membacanya di dalam hati. Membaca intensif harus dilakukan dengan tepat.
Bacalah bacaan berikut :
     Membaca intensif dilakukan untuk mengetahui isi bacaan. Membaca dengan cara ini dilakukan dengan cepat secara sekilas. Tanda seseorang membaca intensif adalah dapat menjawab pertanyaan secara jelas.
     Untuk itu pengalaman belajar peserta didik setelah mempelajari tentang materi membaca intensif ini adalah :
1.      Peserta didik bisa mencari dan menemukan teks bacaan.
2.      Membaca teks bacaan secara intensif.
3.      Bertanya jawab tentang isi bacaan.
4.      Menemukan pokok pikiran suatu bacaan.
5.      Meringkas suatu bacaan dengan mengutamakan kejelasan informasi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tertulis, yang bersifat reseptif. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat diperlukan oleh siapapun yang ingin maju dan meningkatkan diri. Oleh sebab itu, pembelajaran membaca di sekolah mempunyai peranan penting.
            Membaca intensif merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk membaca secara cermat untuk memahami suatu teks secara cepat dan akurat. Kemampuan membaca intensif adalah kemampuan memahami detail secara akurat, lengkap dan kritis terhadap fakta, konsep, gagasan, pendapat, pengalaman, pesan dan perasaan yang ada pada wacana tulis.
            Pengalaman belajar peserta didik setelah mempelajari tentang materi membaca intensif ini adalah :
1.      Peserta didik bisa mencari dan menemukan teks bacaan.
2.      Membaca teks bacaan secara intensif.
3.      Bertanya jawab tentang isi bacaan.
4.      Menemukan pokok pikiran suatu bacaan.
5.      Meringkas suatu bacaan dengan mengutamakan kejelasan informasi.





DAFTAR PUSTAKA
Fasya, Mahmud, dkk. 2009. Bahasa Indonesia Untuk SD dan MI Kelas 3. Buku Sekolah Elektronik (BSE).
Nurhayati, Yeti. 2009. Aku Bisa Bahasa Indonesia Untuk SD/MI Kelas 3. Buku Sekolah Elektronik (BSE).
 Viktor Risman Zega: MEMBACA INTENSIF. http://membacaintensifvr.blogspot.com/2013/12/membaca-intensif.html. 10 Juni 2014, 13.00 WIB.



pengertian pengukuran, penilaian dan evaluasi

Pengertian pengukuran, penilaian dan evaluasi
Pengertian pengukuran menurut,  Pakar  Ahmann dan Glock dalam S.Hamid Hasan (1998) menjelaskan “in the last analysis measurement is at only a  part, although a very substansial part of evaluation. It provides information upon which an evaluation can be based Educational measurement is the process that attemps to obtain a quantified representation of the degree to whitch a trait is possessed by a pupil.”
Pengertian Pengukuran menurut, Pakar Wiersma dan just (1985) mengemukakan “technically, measurement is the assigment of numerals to objects or events according to rules that give numeral quantitative meaning.”
Pengertian Pengukuran menurut, Pakar Walsh dan Betz (1985)            pengukuran yang dikemukakan  di atas, dapat di kemukakan bahwa pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kualitas sesuatu. Kata “sesuatu” bisa berarti peserta didik,  guru,  gedung sekolah,  meja belajar, white board, dan sebagainya. Dalam proses pengukuran, tentu guru harus menggunakan alat ukur ( tes atau non tes ). Alat ukur tersebut harus standar, yaitu memiliki derajat  validitas dan reliabilitas yang tinggi. Dalam bidang pendidikan, psikologi, maupun variabel-variabel sosial lainnya, kegiatan pengukuran biasanya menggunakan tes. Dalam sejarah perkembangan-nya, aturan mengenai pemberian angka ini di dasarkan pada teori pengukuran psikologi yang dinamakan psychometric. Meskipun demikian boleh saja suatu kegiatan penilaian dilakukan tanpa melalui proses pengukuran.
Dari beberapa pengertian pengukuran  di atas dapat di simpulkan bahwa pengukuran adalah:  suatu proses kegiatan untuk menentukan kualitas sesuatu misalnya untuk menentukan peserta didik, guru, gedung sekolah, meja belajar, white board, dll di dalam sebuah proses pengukuran terdapat alat untuk mengukur derajat validitas dan reabilitas yang tinggi di dalam bidang pendidikan serta psikologi, sosial dan lainnya. Kegiatan pengukuran biasanya menggunakan tes atau non tes. 




Pengertian penilaian merupakan alih bahasa dari istilah assessment, nukan dari istilah evaluation. Depdikbud (1994) mengemukakan “penilaian adalah suatu kegiatan untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil yang telah di capai siswa. “Kata” “menyeluruh” menggunakan arti bahwa penilaian tidak hanya ditunjukan pada penguasaan salah satu bidang tertentu saja. Tetapi mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai.
Pengertian  Penilaian menurut,  Pakar  Gronlund mengartikan “penilaian” adalah suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi/data  untuk menetukan sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran.
Pengertian Penilaian menurut,  Pakar Anthony J.Nitkon (1996) menjelaskan “assessment is a broad term defined as a procces for obtaining information that is used for , making decisions about students. “ketiga pengertian di atas menunjukan bahwa penilaian lebih di fokuskan pada peserta didik sebagai subjek belajar dan tidak sedikitpun menyinggung komponen-komponen lainnya,
Dari beberapa pengertian penilaian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah: suatu kegiatan untuk memberikan berbagai informasi secara kesinambungan dan menyeluruh kepada siswa tentang proses dan hasil yang telah di capai siswa dan penilaian tidak hanya ditunjukan pada penguasa salah satu bidang tertentu saja penilaian juga dapat diartikan sebagai suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi/data untuk dapat menetukan sejauh mana peserta didik dapat mencapai tujuan dalam pembelajaran.
Pengertian evaluasi menurut, Pakar Gilbert Sax (1980 : 80) bahwa “evaluation is a process through which a value  judgement or decision is made from a variety of observations and from the background and training of the evaluator”.



Pengertian Evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil (produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi. Membahas tantang evaluasi berarti mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas sesuatu. Gambaran kualitas yang dimaksud merupakan konsekuensi logis dari proses evaluasi yang dilakukan. Proses tersebut pasti dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, dalam arti terencana, sesuai dengan prosedur dan prinsip serta dilakukan secara terus-menerus.
Pengertian Evaluasi menurut, Pakar Carl H. Witherington (1952)“an evaluation is a declaration that something has or does not have value.” Hal senada dikemukakan pula oleh Wand dan Brown (1975), bahwa evaluasi berarti” refer to the act or process to determining the value of something”. Kedua pendapat ini menegaskan pentingnya nilai (value) dalam evaluasi. Padahal, dalam evaluasi bukan hanya berkaitan dengan nilai tetapi juga arti atau makna.
 Pengertian Evaluasi menurut, pakar Guba dan Lincoln (1985), bahwa evaluasi sebagai  “a process for describing an evaluand and judging its merit and worth”. Jadi evaluasi adalah suatu proses untuk menggambarkan peserta didik dan menimbangnya dari dari segi nilai dan arti.
Dari beberapa pengertian Evaluasi di atas dapat disimpulkan bahwa Evaluasi adalah: suatu proses untuk  dapat menggambarkan peserta didik di dalam segi nilai dan arti bukan hanya itu evaluasi juga mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas peserta didik serta evaluasi bukan hanya sebagai suatu proses bukan suatu hasil ( produk )  proses evaluasi bisa di lakukan secara sistematis dan berkelanjutan dalam arti  terencana sesuai dengan prosedur dan prinsip serta dilakukan secara terus-menerus.  




DAFTAR PUSTAKA
Arikonto,Suharsimi.2013.Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:                           Bumi Aksara.
Arifin, Zainal.2009.Evaluasi Pembelajaran,Jilid 1. Bandung:                                           PT Remaja Rosdakarya.





teori belajar

TEORI-TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI
1.      TEORI BELAJAR MENURUT DAVID AUSABLE
Menurut David Ausable mengemukakan teori belajar bermakna (meaningful learning). Belajar  adalah proses mengaitkan dalam informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif seseorang. (Ratna Willis Dahar: 1996). Selanjutnya dikatakan bahwa pembelajaran dapat menimbulkan belajar bermakna jika memenuhi prasayasat, yaitu:
1.      Materi yang akan dipelajari melaksanakan belajar bermakna secara potensial
2.      Anak yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna. Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung dari materi itu memiliki kebermaknaan logis dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
Berdasarkan pandangannya tentang belajar bermakna, maka David Ausuble mengajukan 4 prinsip pembelajaran , yaitu:
Prinsip-prinsip
1.     Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal atau bahan pengait dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama denan konsep baru yang lebih tinggi maknanya. Pemggunaan pengatur awal tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi , terutama materi pelajaran yang telah mempunyai struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.


2.     Diferensiasi progresif
Dalam proses belajar bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang paling umum dan inklusif diperkenalkan dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti proses pembelajaran dari umum ke khusus.

3.     Belajar superordinat
Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mengalami petumbuhan kearah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsepkonsep yang lebih luas dan inklusif.

4.     Penyesuaian Integratif
Pada suatu sasat siswa kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausable mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integratif Caranya materi pelajaran disusun sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hiierarkhi-hierarkhi konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan. Penangkapan (reception learning). Menurut Ausubel , siswa tidak selalu mengetahui apa yang penting atau relevan untuk dirinya sendiri sehigga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang telah diajarkan di sekolah. Ausable menggambarkan model pembelajaran ini dengan nama belajar penangkapan.
Inti belajar penangkapan yaitu pengajaran ekspositori, yakni pembelajaran sistematik yang direncanakan oleh guru mengenai informasi yang bermakna (meaningful information). Pembelajaran ekspositori itu terdiri dari tiga tahap yaitu : 
1.      Penyajian advance organizer
Advance organizer merupakan pernyataan umum yang memeperkenalkan bagian-bagian utama yang etrcakup dalam urutan pengajaran. Advance organizer  berfungsi untuk menghubungkan gagasan yang disajikan di dalam pelajaran dengan informasi yang telah berda didalam pikiran siswa, dan memberikan skema organisasional terhadap informasi yang sangat spesifik yang disajikan.

2.      Penyajian materi atau tugas belajar.
Dalam tahap ini, guru menyajikan metri pembelajaran yang baru dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, film, atau menyajikan tugas-tugas belajar kepada siswa. Ausuble menekankan tentang pentingnya mempertahankan perhatian siswa, dan juga pentingnya pengorganisasian meteri pelajaran yang dikaitakan dengan struktur yang terdapat didalam advance organizer. Dia menyarankan suatu proses yang disebut dengan diferensiasi progresif, dimana pembelajaran berlangsung setahap demi setahap, dimulai dari konsep umum menuju kepada informasi spesifik, contoh-contoh ilustratif, dan membandingkan antara konsep lama dengan konsep baru.

3.      Memperkuat organisasi kognitif.
Ausuble menyarankan bahwa guru mencoba mengikatkan informasi baru ke dalam stuktur yang telah direncanakan di dalam permulaan pelajaran, degan cara mengingatkan siswa bahwa rincian yang bersifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum. Pada akhir pembelajaran ini siswa diminta mengjukan pertanyaan pada diri sendiri mengenai tingkat pemahamannya terhadap pelajaran yang baru dipelajari, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan pengorganisasian materi pembelajaran sebagaimana yang dideskripsikan didalam advance organizer samping itu juga memberikan pertanyaan kepada siswa dalam rangka menjajaki keluasan pemahaman siswa tentang isi pelajaran.
Ausubel (dalam Dahar ,1988 :142) juga menyatakan bahwa agar belajar bermakna terjadi dengan baik dibutuhkan beberapa syarat, yaitu :
1.      Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial,
2.      Anak yang akan belajar harus bertujuan melaksanakan belajar bermakna sehingga mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna.
Dikatakan lebih lanjut oleh Ausubel (Dahar ,1989 :141) ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu :
(a)  Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat,
(b)  Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip,
(c)  Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam prosesnya siswa mengkonstruksi apa yang ia pelajari dan ditekankan pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena,  dan fakta-fakta baru kedalam system pengertian yang telah dipunyainya.

Empat tipe belajar menurut Ausubel, yaitu:

A.      Belajar dengan penemuan yang bermakna
Yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
B.      Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna
Yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
C.      Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna
Materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki.
D.     Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna
Yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki. Prasyarat agar belajar menerima menjadi bermakna menurut Ausubel, yaitu:
a.       Belajar menerima yang bermakna hanya akan terjadi apabila siswa memiliki strategi belajar bermakna,
b.      Tugas-tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa,
c.       Tugas-tugas belajar yang diberikan harus sesuai dengan tahap perkembangan intelektual siswa.

Kelemahan :
1.      Ketika ada informasi yang tidak mirip atau sama maka ingatan siswa akan lupa
2.      Informasi yang lama akan lupa ketika dapat informasi baru.
Kelebihan :
1.      Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat,
2.       Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip,
3.      Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Pandangan saya teori ini bagus untuk mengaitkan setiap informasi-informasi yang baru tetapi setia siswa selalu dapat informasi baru, informasi yang lama akan terlupakan.
2.      TEORI BELAJAR MENURUT SUSANTO
Susanto (2013:4), belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilkau yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun, dalam bertindak.
Kelemahan :
1.      Perubahan yang berfikir negatif tentang perubahan perilaku diri masing-masing.
2.      Kadang perubahan perilaku itu tanpa di sengaja atau tidak di sadari bisa terjadi pada siswa tersebut.
Kelebihan :
1.      Sangat bagus ada perubahan pada diri siswa tersbut
2.      Perubahan perilaku itu bisa berkembang di sekitar kita di mana pun kita berada.
Pandangan saya teori ini bisa diimplementasikan ke pendidikan indonesia untuk pemahana belajar atau pengetahuan untuk merubah perilaku yang sangat relatif.
3.      TEORI BELAJAR MENURUT ROBERT GAGNE
Menurut Robert Gagne adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang telah memperkenalkan berbagai pandangan tentang belajar, salah satunya adalah teori pembelajaran yang didasarkan pada model pemrosesan informasi. Dalam memahami belajar, Gagne tidak memperhatikan apakah proses belajar terjadi melalui proses penemuan, ataupun melalui proses penerimaan sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Bruner dan Ausubel. Menurut Gagne, yang terpenting dalam belajar adalah kualitas penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.
Ada beberapa unsur yang melandasi pandangan Gagne tentang belajar. Menurutnya, belajar bukan merupakan proses tunggal, melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku. Jadi, tingkah laku merupakan hasil dari efek komulatif belajar. Artinya, banyak keterampilan yang telah dipelajari memberikan sumbangan bagi ketrampilan yang lebih rumit. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, yang menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlainan yang disebut kapasitas. Kapasitas itu diperoleh dari stimulus yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh siswa.
Berdasarkan pandangannya itu, Gagne mendefinisikan pengertian belajar secara formal bahwa belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulus dari lingkungan menjadi beberapa tahap pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapasitas yang baru.
Ragam Belajar
Kapasitas orang untuk belajar memungkinkan diperolehnya berbagai pola tingkah laku yang hampir mirip. Berdasarkan pandangannya tentang belajar ini Gagne menemukan bahwa ada lima ragam belajar yang terjadi pada manusia, yaitu
1.   Informasi verbal
Informasi verbal adalah kapabilitas yang dinyatakan dengan kategori memperoleh label, nama-nama, fakta dan bidang pengetahuan yang sudah tersusun. Kegiatan dalam mengetahui kapabilitas informasi verbal dilakukan dengan mengatakan, memberi nama lain yang hampir sama, membuat ikhtisar dari informasi yang telah dipelajari.
a.    Keterampilan intelek
Keterampilan intelek adalah kapabilitas yang berupa keterampilan yang membuat seseorang mampu dan berguna di masyarakat. Keterampilan intelek berhubungan dengan pendidikan formal dari mulai tingkat dasar dan seterusnya. Keterampilan intelek ini terdiri dari empat keterampilan yang berhubungan dari yang sifatnya sederhana sampai yang rumit, yaitu belajar diskriminasi, belajar konsep konkrit dan konsep menurut definisi, belajar kaidah, dan belajar kaidah yang tarafnya lebih tinggi.
b.   Keterampilan motorik (gerak)
Keterampilan ini adalah kapabilitas yang mendasari perbuatan jasmani termasuk keterampilan yang bersifat sederhana. Ciri umum ketrampilan ini adalah membutuhkan prasyarat untuk mengembangkan kemulusan atau kehalusan bertindak dan pengaturan waktu. Keterampilan ini bila sering dipraktekan akan bertambah sempurna. Untuk itu dalam mengajarkannya perlu banyak pengulangan atau latihan-latihan disertai umpan balik lingkungan.
c.    Sikap
Sikap adalah kapabilitas yang mempengaruhi pilihan tentang tindakan mana yang perlu diambil. Ciri kapabilitas ini adalah tidak menentukan tindakan khusus yang akan diambil. Belajar memperoleh sikap didasarkan pada informasi tentang tindakan apa yang perlu dilakukan dan apa akibatnya.
d.   Siasat kognitif
Siasat kognitif adalah kapabilitas yang mengatur bagaimana siswa megelola belajarnya, seperti mengingat atau berpikir dalam rangka mengendalikan sesuatu untuk mengatur suatu tindakan. Hal ini mempengaruhi perhatian siswa dan informasi yang tersimpan dalam ingatannya. Kapasitas ini mempengaruhi siasat siswa dalam rangka menemukan kembali hal-hal yang telah tersimpan. Siasat kognitif sama dengan proses berpikir siswa sendiri.
Kelima ragam ini belajar ini diperoleh dengan cara yang berlainan, yaitu masing-masing memerlukan keterampilan prasyarat yang berbeda dan perangkat langkah proses kognitif yang berbeda pula yang disebut kondisi belajar internal.
Kesembilan peristiwa pembelajaran yang ada pada setiap fase belajar dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Membangkitkan perhatian. Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah menarik perhatian siswa agar mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran. Perhatian siswa dapat ditingkatkan dengan memberikan berbagai rangsangan sesuai dengan kondisi yang ada, misalnya dengan perubahangerak badan (berjalan, mendekati siswa, dan lain-lain), perubahan suara, menggunakan berbagai media belajar yang dapat menarik perhatian dan menunjukan atau menyebutkan contoh-contoh yang ada didalam kelas atau diluar kelas, dan lain-lain.
b.   Memberitahukan tujuan pembelajaran pada siswa. Agar siswa mempunyai pengharapan dan tujuan selama belajar maka kepada siswa perlu dijelaskan tujuan apa saja yg perlu dicapai selama pembelajaran, mafaat materi yang akan dipelajari bagi siswa, dan tugas-tugas yang harus diselesaikan selama pembelajaran. Keuntungan menjelaskan tujuan adalah agar siswa dapat menjawab sendiri pertanyaan apakah ia telah belajar? Apakah materi yg dipelajari telah dikuasai? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membangkitkan harapan dalam diri siswa tentang kemampuan dan upaya yang harus dilakukan agar tujuan tercapai.
c. Merangsang ingatan pada materi prasyarat. Bila siswa telah memiliki perhatian dan pengharapan yang baik pada pelajaran,guru perlu mengingatkan siswa pada materi apa saja yang telah dikuasai sehubungan dengan materi yang akan diajarkan. Dengan pengetahuan awal yang ada pada memori kerjanya diharapkan siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan yg lama dengan pengetahuan yang baru yang akan dipelajari. Ada banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengigatkan siswa pada materi yang telah dipelajari, misalnya dengan mengigatkan siswa pada topik-topik yang telah dipelajari dan meminta siswa untuk menjelaskan secara singkat.
d.   Menyajikan bahan perangsang. Peristiwa pembelajaran keempat adalah menyajikan bahan kepada siswa berupa pokok-pokok materi yang penting yang bersifat kunci. Sebelum itu guru sudah harus menentukan bahan apa yang akan disajikan, apakah berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, atau belajar sikap. Berdasarkan jenis kemampuan/bahan ini maka dapat dipilih bentuk kegiatan apa yang akan disajikan sehingga proses pembelajaran berjalan lancar. Misalnya bila akan mengajarkan sikap, pilihlah bahan yang berupa model-model perilaku manusia. Bila akan mengajarkan keterampilan motorik, demonstrasikan contoh bahan keterampilan tersebut dan tunjukan caranya secara tepat.
e.   Memberi bimbingan belajar. Bimbingan belajar diberikan dengan tujuan untuk membantu siswa agar mudah mencapai tujuan pelajaran atau kemampuan-kemampuan yang harus dicapainya pada akhir pelajaran. Misalnya, bila siswa menguasai konsep-konsep kunci, berilah cara mengingat konsep-konsep tersebut misalnya dengan menjelaskan karakteristik dari setiap konsep. Bila siswa harus menguasai suatu keterampilan tertentu maka bimbinglah dengan cara menjelaskan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menguasai keterampilan tersebut. Dalam hal ini bimbingan belajar harus diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa beserta kesulitan-kesulitannya.
f.    Menampilkan unjuk kerja. Untuk mengetahui apakah siswa telah mencapai kemampuan yang diharapkan, mintalah mereka untuk menampilkan tindakannya dalam bentuk tindakan yang dapat diamati oleh guru. Misalnya, bila ingin mengetahui kemampuan informasi verbal siswa, beri siswa pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengukur tingkat penguasaanya atau bila ingin mengetahui keterampilan siswa maka mintalah mereka melakukan suatu tindakan tertentu. Jawaban yang diberikan siswa hendaklah sesuai dengan kemampuan yang diminta dalam tujuan pembelajaran.
g.   Memberikan umpan balik. Memberikan umpanbalik merupakan fase belajar yang terpenting. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik umpan balik diberikan secara informatif dengan cara memberikan keterangan tentang tingkat untuk kerja yang telah dicapai siswa. Misalnya, jelaskan jawaban yang sudah lengkap dan yang perlu dilengkapi atau dipelajari kembali oleh siswa dengan cara “sudah baik”, “pelajari kembali”, atau “lengkapi”. Dan lainlain.
h.   Menilai untuk kerja. Merupakan peristiwa pembelajaran yang bertujuan untuk menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum. Untuk itu perlu dibuat alat penilaian yang relevan dengan tujuan sehingga dapat untuk mengukur tingkat pencapaian belajar siswa.
i.   Meningkatkan retensi. Peristiwa pembelajaran terakhir yang harus dilakukan guru adalah upaya untuk meningkatkan retensi dan alih belajar. Guru perlu memberikan latihan-latihan dalam berbagai situasi agar siswanya dapat mengulangi dan menggunakan pengetahuan barunya kapan saja jika diperlukan.
Menurut Gagne, yang terpenting dalam pembelajaran adalah menciptakan suatu kondisi pembelajaran (eksternal) yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang bersifat internal.

Kelemahan :
1.      belajar perlu didukung oleh suatu peristiwa pembelajaran tertentu agar pada setiap belajar menghasilkan aktivitas belajar yang maksimal dalam diri siswa.
2.      belajar ini sangat penting karena selalu ada dalam setiap tindakan belajar dan digunakan secara berlainan pada belajar yang berlainan pula.
Kelebihan :
1.      Membangkitkan perhatian
2.      Memberitahukan tujuan pembelajaran pada siswa
3.      Merangsang ingatan pada materi prasyarat
4.      Memberi bimbingan belajar
5.      Memberikan umpan balik.
Pandangan saya Kapasitas orang untuk belajar memungkinkan diperolehnya berbagai pola tingkah laku yang hampir mirip.


4.      Teori Belajar menurut  Bruner
Belajar merupakan aktifitas yang berproses, tentu didalamnya terjadi   perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional.  belajar adalah cara-cara bagaimana seseorang memilih mempertahankan, dan mentransformasikan informasi yang diterimanya secara aktif.Dalam memandang proses belajar, Brunner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang.
Selain itu Bruner menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Menurut pandangan Brunner (1964) bahwa teori belajar itu bersifat deskriftif.
Dalam bukunya yang berjudul Process of Education, Bruner menerangkan bahwa dalam proses belajar ada tiga faktor yang mempengaruhi kelancaran proses tersebut. Tiga faktor ini sangat ditekankan dan harus menjadi perhatian guru di dalam menyelenggarakan pembelajaran.
Tiga factor dalam menyelenggarakan pembelajaran yaitu:
1.   Pentingnya memahami struktur mata pelajaran
Struktur mata pelajaran berisi ide-ide, konsep-konsep dasar, hubungan antar konsep, atau contoh-contoh dari bidang tersebut yang dianggap penting. Strutuk penting dari suatu ide ini dapat disajikan secara sederhana dalam bentuk diagram, serangkaian prinsip ataupun formula. Dengan struktur pengetahuan kita dapat menolong parasiswa untuk dapat melihat fakta-fakta yang tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu sama lain, demikian juga untuk informasi yang baru juga dapat dihubungkan. Karenanya, Bruner sangat menekankan pada pentingnya struktur mata pelajaran dalamn menyajikan materi pembelajaran. Menurut Bruner proses belajar akan lebih bermakna, berguna dan mudah diingat oleh siswa bila difokuskan pada pemahaman tentang struktur mata pelajaran yang akan dipelajari.
2.   Kesiapan untuk belajar
Dalam belajar, guru harus memperhatikan kesiapan siswa untuk mempelajari materi baru atau yang bersifat lanjutan. Kesiapan belajar dapat terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang telah dikuasai terlebih dahulu dan yang memungkinkan sesorang untuk memahami dan mencapai ketrampilan yang lebih tinggi. Untuk mengetahui apakah anak tersebvut telah memiliki kesiapan dalam mempelajari materi pelajaran tertentu maka perlu diberikan tes mengenai materi awal yang berhubungan dengan topik yang akan diajarkan. Bila siswa dapat mengerjakan tes dengan baik, berarti aia telah siap. Bila tidak mampu mengerjakan sekalipun ia telah bekerja keras ia dinyatakan belom siap. Untuk menumbuhkan kesiapan anak seorang guru harus memberikan pengalaman-pengalaman tertentu yangberhubungan dengan pengetahuan atau ketrampilan yang harus dikuasai.
3.   Intuisi
Menurut Bruner yang dimaksud dengan intuisi adalah tenik-teknik intelektual analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak.
4.   Motivasi
 Motivasi adalah kondisi khusus yang dapat mempengaruhi individu untuk belajar. Motivasi merupakan hal yang penting khusunya selama proses pembelajaran yang dapat mendorong kemauan belajar siswa. Karenanya, Bruner percaya bahwa hampir semua anak mempunyai masa-masa pertumbuhan akan “keinginan untuk blajar”. Bruner juga menekankan pentingnya motivasi intrinsik dibandingkan dengan motivasi internal. Contoh motivasi intrinsik adalah rasa ingin tahu anak. Bahwa dunia ini akan dapat dikenal dan dikuasai anak dengan menggunakan kesadaran “ingin tahu”. Motivasi lain yang dapat membawa kita pada dunia ini adalah dengan memiliki berbagai kompetensi. Anak-anak nantinya akan merasa tertarik untuk mempelajari hal-hal yang mereka anggap biasa dan telah dikuasai. Suatu hal yang tidak mungkin adalah memotivasi anak agar menguasai sesuatu yang mereka tidak biasa dan tidak kuasai.
Belajar Penemuan dari Bruner, Manfaat, dan Contoh Penerapannya dalam Pembelajaran
Belajar penemuan (discovery learning) merupakan salah satu model pembelajaran atau belajar kognitif yang dikembangkan oleh Bruner (1966). Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukannya sendiri, bukan hanya sekedar menerima penjelasan dari guru saja.
Bruner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar dimana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antar konsep. Menurut Bruner, belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah yang ditemui dengna pengetahuan yang telah dimiliki dan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.
Adapun manfaat belajar penemuan sebagai berikut:
1.   Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna.
2.   Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tersimpan lama dan mudah diingat.
3.   Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan     
     adalah agar siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterimanya.
4.   Transfer dapat ditingkatkan setelah generalisasi ditemukan sendiri oleh siswa.
5.   Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan
     motivasi belajar.
6. Belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir   
      secara bebas.
Tahap-tahap penerapan belajar penemuan sebagai berikut:
1.   Stimulus (pemberian perangsang atau stimuli); kegiatan belajar dimulai dengan memeberikan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2.     Problem statement (mengidentifikasi masalah); memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebnyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara dari masalah tersebut).
3.   Data collection (pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tersebut.
4.    Data processing (pengolahan data); mengolah data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi, dan lain-lain. Data tersebut kemudian ditafsirkan.
5.      Verifikasi; mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang ditetapkan dan dihubungkan dengan hasil dan pengolahan data.
6.  Generalisasi; mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Kelebihan :
1.      Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna.
2.       Pengetahuan yang diperoleh si belajar akan tertinggal lama dan mudah diingat.
3.      Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan dalam belajar agar si belajar dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterima.
4.      Transfer dapat ditingkatkan di mana generalisasi telah ditemukan sendiri oleh si belajar daripada disajikan dalam bentuk jadi.
5.      Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.
6.       Meningkatkan penalaran si belajar dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.
Kelemahan :
1.      Belajar Penemuan ini memerlukan kecerdasan anak yang tinggi. Bila kurang cerdas, hasilnya kurang efektif.
2.      Teori belajar seperti ini memakan waktu cukup lama dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menyebabkan kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari.
Pandangan sayan bila yg kurang cerdas hasilnya tidak efektif kita bisa latih siswa tersebut setiap hari,y maka anak tersebut bisa mengikuti  pelajaran terebut.
Sumber : http://ninamath.wordpress.com/2013/03/14/teori-belajar-bruner/
5.      TEORI BELAJAR MENURUT THORNDIKE
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam eksperimennya, Thorndike menggunakan kucing. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) tersebut diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut
a. Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
b. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Sehingga prinsip dari hokum ini menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
c. Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
Selain tiga hukum di atas Thorndike juga menambahkan hokum lainnya dalam belajar yaitu Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response), Hukum Sikap ( Set/ Attitude), Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element), Hukum Respon by Analogy, dan Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting).
Kelemahan :
-          Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi.
-          Banyak murid yang jarang mengulangi materi pelajaran itu di rumah.
Kelebihan :
-          prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.


6.      TEORI BELAJAR MENURUT B.F SKINNER   
Belajar itu adalah tingkah laku. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkung Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Aplikasi teori skinner terhadap pembelajaran.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
·         Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
·         Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika  
          benar diperkuat.
·         Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
·         Materi pelajaran digunakan sistem modul.
·         Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
·         Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
·         Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
·         Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran
          agar tidak menghukum.
·         Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
·         Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
·         Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
·         Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
·         Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
·         Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
·         Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya
           masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat
           sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.
Kekurangan
Beberapa kelemahan  dari teori ini berdasarkan analisa  adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Pandangan saya tentang teori ini tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Margaret E. Bell Gredler, 1994. Belajar dan pembelajaran. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
7.      Teori belajar menurut PIAGET
Teori menurut piaget Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap.Teori Piaget mengenai terjadinya belajar didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan.Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran.Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan.
PENDAPAT PIAGET TENTANG PENDIDIKAN
Menurut Piaget, pengalaman pendidikan harus dibangun di seputar struktur kognitif pembelajar. Anak-anak berusia sama dan dari kultur yang sama cenderung memiliki kognitif yang sama, tetapi adalah mungkin bagi mereka memiliki sturktur kognitif yang berbeda dan karenanya membutuhkan materi belajar yang berbeda pula. Di satu sisi, materi pendidikan yang tidak bisa diasimilasikan ke struktur kognitif anak tidak akan bermakna bagi si anak. Jika di sisi lain, materi bisa diasimilasi secara komplet, tidak akan ada proses belajar yang terjadi. Agar belajar tejadi, materi perlu sebagian sudah sebagian diketahui dan sebagian belum. Bagian yang sudah diketahui akan diasimilasi, dan bagian yang belum diketahui akan menimbulkan modifikasi dalam struktu kognitif anak. Modifikasi ini disebut akomodasi, yang dapat disamakan dengan belajar.
Jadi, menurut Piaget, pendidikan yang optimal membutuhkan pengalaman yang menantang bagi si pembelajar sehingga proses asimilasi dan akomodasi dapat menghasilkan pertumbuhan intelektual. Untuk menciptakan pengalaman ini, guru harus tahu level fungsi struktur kognitif siswa. Piaget (kaum kognitif) dan kaum behaviorisme, menyimpulkan bahwa pendidikan harus diindividualisasikan. Piaget mendapatkan kesimpulan ini dengan menyadari bahwa kemampuan untuk mengasimilasi dan bervariasi dari anak ke anak yang lain dan bahwa materi pendidikan harus disesuaikan dengan struktur kognitif anak. Behavioris mendapatkan kesimpulan dengan menyadari bahwa penguatan haruslah kontingen (bergantung) pada perilaku yang tepat, dan penyaluran penguat yang tetap membutuhkan hubungan tatap muka antara satu guru dengan satu murid atau antara murid dan materi pendidikan.
Kondisi optimal untuk belajar
Jika sesuatu tak bisa diasimilasikan ke dalam struktur kognitif organisme, ia tak dapat bertindak sebagai stimulus biologi. Sehingga struktur kognitif menciptakan lingkungan fisik (jasmani).Saat struktur kognitif semakin meluas, lingkungan fisik teratikulasikan dengan lebih baik.Demikian pula, jika sesuatu sangat jauh dari struktur kognitif organisme sehingga tidak bisa diakomodasi, tidak akan terjadi belajar. Agar belajar optimal terjadi, informasi harus disajikan sedemikian rupa sehingga dapat diasimilasikan ke dalam sturtuk kognitif tersebut. Jika informasi tidak dapat diasimilasikan, maka ia tak bisa dipahami. Tapi jika sesuatu sudah dipahami dengan sempurna, tidak diperlukan proses belajar.
Dalam teori Piaget asimilasi dan pemahaman mempunyai pengertian yang serupa. Sehingga Dollard dan Miller mengistilahkannya sebagai “dilema belajar”, yang menunjukkan semua proses belajar bergantung pada kegagalan. Menurut Piaget, kegagalan pengetahuan sebelumnya untuk mengasimilasikan suatu pengalaman akan menyebabkan akomodasi, atau proses belajar baru. Pengalaman harus cukup menantang agar memicu perkembangan kognitif. Sekali lagi, pertumbuhan akan terjadi jika hanya asimilasi terjadi.
Piaget mendukung hubungan tatap muka (satu-satu) antara guru dan murid dalam pembelajaran. Dengan alasan seseorang harus menentukan jenis struktur kognitif apa yang tersedia bagi individu dan pelan-pelan mengubah struktur ini sedikit demi sedikit.
Piaget sering dianggap nativis yang percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi sebagai hasil dari kematangan biologis, namun anggapan ini tak sepenuhnya benar.Ia percaya bahwa pendewasaan hanya menyediakan kerangka untuk perkembangan intelektual. Selain itu, ada pula pengalaman fisik maupun sosial yang sangat penting bagi perkembangan mental.
Pada tahun 1958 Piaget dan Inhelder mengemukakan “pendewasaan sistem syaraf tak bisa melakukan lebih dari penentuan totalitas kemungkinan dan kemustahilan pada tahap tertentu.Lingkungan sosial tertentu jelas tidak bisa diabaikan agar kemungkinan-kemungkinan dapat direalisasikan.Realisasi ini dapat dipercepat atau diperlambat oleh fungsi kultural dan kondisi pendidikan”.
Piaget juga mengatakan “manusia sejak lahir sudah berada dalam lingkungan fisik dan sosial yang mempengaruhinya. Masyarakat dalam pengertian lebih dari sekedar lingkungan fisik dan lingkungan sosial bisa mengubah struktur dasar individu, sebab ia bukan hanya individu untuk mengenali fakta, tapi juga memberinya sistem tanda yang sudah siap, yang akan memodifikasi pemikirannya, lingkungan sosial akan memberinya nilai-nilai baru dan menetapkan serangkaian kewajiban kepadanya”.
Kontribusi teori Piaget dalam belajar
Berbeda dengan teori belajar lain seperti yang telah kita pelajari, Piaget tidak mudah dikategorikan sebagai teoritisi penguatan, atau teoretisi kontinguitas. Seperti para periset lainnya yang secara longgar disebut sebagai aliran kognitif, dia mengasumsikan bahwa belajar terjadi kurang lebih secara kontinu dan belajar melibatkan akuisi informasi dan representasi kognitif dari informasi itu. Kontribusi unik Piaget dalam perspektif umum ini adalah ia telah mengidentifikasi aspek kualitatif dalam belajar. Secara spesifik, aspek asimilasi dan akomodasinya mengidentifikasi dua tipe pengalaman belajar. Keduanya adalah proses belajar, keduanya melibatkan akuisi dan penyimpanan informasi. Namun asimilasi adalah jenis belajar yang statis, dibatasi oleh struktur kognitif yang ada; akomodasi adalah proses pertumbuhan progresif dari struktur kognitif yang mengubah karakter dari semua proses belajar selanjutnya.

8.      TEORI BELAJAR MENURUT LEV VYGOTSKY
Menurut Lev Vygotsky. Ia mengatakan bahwa belajar adalah jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang ada di balik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal usul tindakan sadarnya, dari interaksi social yang dilatari oleh sejarah hidupnya.
Mekanisme teori yang digunakan untuk menspesifikasi hubungan antara pendekatan sosio-kultural dan pemfungsian mental didasarkan pada tema mediasi semiotik, yang artinya adalah tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penengah antara rasionalitas dalam pendekatan sosio-kultural dan manusia sebagai tempat berlangsungnya proses mental.
Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran social bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat derivative atau merupakan turunan dan bersifat sekunder. Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Konsep-konsep penting teori sociogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif yang sesuai dengan revolusi-sosiokultural dalam teori belajar dan pembelajaran.
Perkembangan kognitif yaitu:
a. Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang memebentuk lingkungan sosialnya, dan tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan. Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang.

b. Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
Menurut Vygotsky, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Ini disebut kemampuan intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten, ini disebut kemampuan itermental. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci yang perlu dicatat adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat context dependent atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai fundamental dalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.

c. Mediasi
Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif. Mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan regulasi diri, meliputi self planning, self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating. Sedangkan mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem serta berkaitan pula dengan konsep spontan (yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya).
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya.
Kelemahan :
-       Tidak semua fikiran orang itu bisa di baca oleh setiap orang.
-       Dan fikiran orang bisa berubah-ubah kapan saja.
Kelebihan :
-       Yang bisa membaca fikiran seseorang itu hanya orang tertentu saja.
-       Dan perilaku seseorang itu bisa mengisyaratkan bahwa fikiran dia sedang memikirkan sesuatu.
Pandangan saya terhadap teori ini adalah pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya.
9.    TEORI BELAJAR MENURUT REIGELUTH
Reigeluth (1983 dalam Degeng ,1990) Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran  dimaksudkan untuk mencapai tujuan,  dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya variabel yang diamati dalam mengembangkan teori belajar   adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori pembelajaran variabel yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari interaksi antara metode dan kondisi. Dengan kata lain teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses psikologis dalam diri siswa.
Kelebihan :
1.   Lebih terkonsep sehingga siswa lebih memahami materi yang akan disampaikan.
2.   Mendorong siswa untuk mencari sumber pengetahuan sebanyak – banyaknya dalam mengerjakan suatu tugas.
Kelemahan :  
1.   kurang memperhatikan sisi psikologis siswa dalam mendalami suatu materi.
2.   Membutuhkan waktu cukup lama
Pandangan menurut saya adalah lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal.

10.  TEORI BELAJAR MENURUT EDWIN GUTHRIE
Edwin Guthrie menggunakan variable stimulus dan respon untuk menjelaskan proses terjadinya belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Clark dan Hull.

Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh karena itu dalam kegiatan belajarnya peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap.

Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan bersifat tetap, maka diperlukakan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Tidak semua hukum bisa efektif dalam pembelajaran, efektifitas hukuman juga ditentukan oleh lingkungan, karakter siswa dan ideologi yang di miliki siswa terhadap gurunya.
Kelemahan :
-          Banyak siswa yang tidak menghubungan antara stimulus dan respon
Kelebihan :
-          Sangat bagus terhaadap siswa di berikan stimulus dan respon setiap harinya.
Menurut saying terhadap teori ini Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negative.
                 








DAFTAR PUSTAKA

1.      Dahar, R.W. 1988. Teori-teori Belajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan : Jakarta.
2.      Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar Pembelajaran di sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
3.      B.F. Skinner and radical behaviorism, Ali, Muh. 1978. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
4.      Kasim, Anwar. 2010. Psikologi Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
5.      Udin S. Winataputra, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

6.      Hartini, Eveline. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.